Belajar dari Taktik SBY Depak JK: Pilihan Cawapres Prabowo Mulai Terbaca
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Analis politik Dr. Selamat Ginting dari Universitas Nasional menilai kalkulasi politik Presiden Prabowo Subianto dalam menentukan calon wakil presiden (cawapres) untuk Pilpres 2029 mulai menimbulkan sorotan. Dalam diskusi di YouTube Forum Keadilan TV, Ginting menjelaskan bahwa Prabowo perlu mempertimbankan risiko politik sebelum memilih pendampingnya. Jika memilih cawapres dari PDIP seperti Puan Maharani atau Pramono Anung, Prabowo berpotensi memberikan 'karpet merah' kepada PDIP dalam lima tahun kemudian. Sama halnya jika memilih AHY dari Demokrat, yang berarti memberikan 'karpet biru' kepada partai tersebut.
Ginting mengacu pada strategi Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak kembali berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) pada periode keduanya untuk menghindari memberikan 'karpet kuning' kepada Golkar. Menurutnya, langkah serupa mungkin akan diambil Prabowo agar tidak memberikan keuntungan besar kepada satu partai politik tertentu.
Berdasarkan analisis ini, Ginting menyatakan peluang Prabowo menggandeng Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) cukup terbuka, asalkan KDM tetap berada di partai Gerindra. Namanya saja termasuk dalam pertimbangan karena dianggap tidak memberikan keuntungan langsung kepada partai lain.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 29 September 2026 pukul 13.31
Puan Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dan Megawati, Terasa Seperti Keluarga
Berita terkait
Prabowo Pernah Jadi 'Korban' Politik 3 Tokoh Besar, Akankah Dedi Mulyadi Jadi yang Keempat?
Warta Ekonomi · 29 September 2026 pukul 11.20
Wacana Gila: Prabowo–Dedi Mulyadi Duet Capres-Cawapres 2029
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 14.45
Kepuasan Publik Masih Tinggi ke Prabowo, Akan Sulit Kalah di Pilpres 2029
Warta Ekonomi · 29 September 2026 pukul 15.40
Dedi Mulyadi Berkesempatan Jadi Cawapresnya Prabowo, Ini Syaratnya
Warta Ekonomi · 29 September 2026 pukul 15.25