Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Bertahan Menjaga Energi Nasional di Tengah Konflik Panjang Timteng

Konflik di Timur Tengah mengganggu jalur vital Selat Hormuz (20-25% pasokan minyak dunia) dan Bab el-Mandeb (10-12%), mengancam rantai pasok global termasuk Indonesia. Pemerintah dan Pertamina merespons dengan mendiversifikasi impor ke AS, Afrika, Asia, dan ASEAN, serta menginstruksikan kontraktor (KKKS) memprioritaskan produksi minyak mentah domestik, mengoptimalkan kilang, dan mencari sumber LPG alternatif. Presiden Prabowo Subianto menilai pengelolaan energi berjalan baik, harga BBM bersubsidi stabil, dan rantai pasok sudah normal menurut Wakil Ketua Komisi XII Bambang Haryadi.

Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat produksi semester I 2026 sebesar 935 ribu barel setara minyak per hari (459 ribu barel minyak/hari, 2.756 juta kaki kubik gas/hari), didukung 278 sumur eksploitasi, 601 workover, dan 13.870 well service. Eksplorasi menghasilkan 9 sumur, survei seismik 2D 189 km dan 3D 2.848 km², serta penemuan 108 juta barel sumber daya kontingen (2C) dan 24,9 juta barel cadangan terbukti (P1). PHE memperluas 8 blok baru di Indonesia dan 1 di Malaysia, bermitra dengan Petronas, BP, ENI, dan lain-lain.

Program Bring Barrel Home mengirim 450 ribu barel minyak dari Lapangan Menzel Lejmat Aljazair ke Kilang Cilacap. Pakar Yayan Satyakti menilai strategi diversifikasi tepat, menyarankan memperdalam poros Singapura-Malaysia-India untuk BBM jadi (hindar Hormuz), Nigeria dan Angola untuk minyak mentah, serta AS dan Brasil sebagai cadangan. Aset Pertamina tersebar di Aljazair, Malaysia, Irak, Nigeria, Gabon, dan Tanzania.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait