Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Cerita dari Ujung Jakarta: Neng Mae Raup Cuan dari Jajanan Khas Betawi

Umairoh, perempuan Betawi asli, mendirikan UMKM Neng Mae pada 2019 bersama suaminya setelah kesulitan mencari oleh-oleh khas Jakarta saat hendak pulang ke Pemalang. Usaha dimulai dengan akar kelapa resep ibunya dan kacang ngumpet, dengan omzet awal Rp5 juta per bulan. Pandemi Covid-19 sempat memukul penjualan, mendorong rebranding pada 2021 dengan kemasan pouch dan penambahan produk seperti biji ketapang, kembang goyang mini, rengginang mini, dan kue arisah. Omzet naik bertahap dari Rp10 juta menjadi Rp40 juta per bulan pada 2024, namun biaya operasional toko fisik di Rorotan membuat pendapatan tak cukup, hingga Umairoh sempat mempertimbangkan PHK.

Pada 2025, Umairoh mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai business intelligence analyst untuk fokus penuh. Ia mempelajari pola penjualan digital di Shopee menggunakan Seller Dashboard, yang mendorong omzet melonjak sekitar 300 persen, dari Rp25-30 juta menjadi mendekati Rp90 juta, lalu stabil di atas Rp100 juta per bulan, dan mencapai Rp160-180 juta saat Ramadan-Lebaran. Kini 50-60 persen penjualan berasal dari e-commerce, produksi meningkat hingga 50-70 kg per varian saat puncak, dan produk pernah dikirim ke Jepang dan Malaysia. Sekitar 12 pekerja terlibat, dan Umairoh bercita-cita menjadikan Neng Mae ikon oleh-oleh Jakarta.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait