Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Destry Ungkap 4 PR Besar Bank Sentral di Era AI-Fragmentasi Global

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, memperingatkan bahwa bank sentral global kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat fragmentasi geoekonomi, percepatan transformasi digital, dan meningkatnya risiko sistemik. Dalam pembukaan Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 di Bali pada 31 Juli 2026, ia menyerukan pendekatan kebijakan yang terintegrasi—menggabungkan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, dan koordinasi fiskal—daripada pendekatan sektoral yang selama ini diterapkan. Destry memaparkan empat agenda riset prioritas: (1) memahami transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi yang memengaruhi perdagangan, investasi, dan arus modal; (2) mendalami perkembangan keuangan digital, termasuk AI, fintech, kripto, dan CBDC; (3) mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makroprudensial untuk mengantisipasi ancaman siber, iklim, likuiditas, dan risiko lintas negara; serta (4) memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan publik. Ia menegaskan komitmen BI untuk memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menekankan pentingnya koordinasi kebijakan di tengah ketidakpastian global, menyebut "trilema kebijakan" yang mengharuskan stabilitas nilai tukar, mobilitas modal, dan independensi moneter berjalan bersama dengan dukungan fiskal dan makroprudensial. Konferensi ini juga menyoroti kebutuhan akan analisis berbasis skenario, kerja sama internasional, dan ekosistem keuangan digital yang efisien, interoperabel, dan tangguh, dengan 354 makalah dari 34 negara yang diajukan ke BMEB 2026.

Berita terkait