Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

GRC Mulai Jadi Strategi Bisnis, Dorong Perusahaan Lebih Tahan Risiko

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan bahwa penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) kini tidak lagi hanya sebagai fungsi kepatuhan, tetapi harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis dan penciptaan nilai perusahaan. Menurut Effendi Hengki, Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, GRC yang efektif membantu manajemen mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi, menangkap peluang strategis, dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis. Pernyataannya disampaikan pada acara TOP GRC Awards 2026 di Jakarta pada 9 September 2026.

Dengan perkembangan teknologi digital yang pesat, risiko bisnis kini dapat berkembang dalam hitungan menit. Hal ini mendorong perusahaan untuk beralih dari pendekatan GRC yang bersifat periodik menuju continuous assurance, yang memanfaatkan data secara real-time, otomatisasi, dan sistem terintegrasi untuk mendeteksi risiko lebih dini. Antonius Alijoyo, Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, menekankan bahwa Intelligent GRC harus menggabungkan data, teknologi, analitik, dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas informasi, memperkuat kontrol, dan mendukung pengambilan keputusan strategis.

Pergeseran ini juga mencerminkan tuntutan meningkatnya keberlanjutan. Mardiasmo, Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), menyatakan bahwa sustainability harus dirancang sejak awal dan terintegrasi dengan purpose, strategi, risk appetite, hingga alokasi sumber daya. GRC kini diukur tidak hanya dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari perilaku etis, kualitas pengambilan keputusan, perlindungan pemangku kepentiangan, ketahanan perusahaan, dan kemampuan menciptakan nilai jangka panjang.

Berita terkait