Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Harga Emas Kembali Melemah, Tapi Permintaan Masih Kuat

Harga emas turun lebih dari 2% minggu ini, berdagang di kisaran US$ 4.292 per ons, menghampiri level psikologis US$ 4.300. Penurunan ini terutama dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun ke level tertinggi dua dekade, yakni 5,2%, yang meningkatkan biaya peluang bagi para investor untuk memegang emas. Meski tekanan jual terbatas, sejumlah analis menilai harga emas masih relatif tangguh dibandingkan dua bulan lalu ketika berada di bawah US$ 4.000 per ons.

Analis Commerzbank, Barbara Lambrecht, menyatakan bahwa investor jangka panjang masih mempertahihkan kepemilikan emas melalui ETF, sehingga potensi koreksi diperkirakan terbatas. Pasar emas juga didukung oleh faktor struktural seperti pembelian kuat dari bank sentral, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran fiskal yang mendalam. Selain itu, rendahnya volatilitas pasar saham dan kepercayaan berlebihan investor terhadap pasar obligasi menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset lindung nilai.

Beberapa analis menyoroti risiko penurunan lebih lanjut jika imbal hasil obligasi tetap di atas 5%. Ole Hansen dari Saxo Bank menunjuk level support penting di US$ 4.235 per ons, penembusan ke bawahnya bisa membuka ruang bagi koreksi menuju zona US$ 4.000. Di sisi lain, Waleed Said dari GivTrade menilai US$ 4.000 hingga US$ 3.800 bisa menjadi target jika The Fed terus menaikkan suku bunga. Namun, banyak analis melihat peluang beli jangka panjang, terutama jika data ekonomi AS melemah dan memberi ruang bagi harga emas pulih.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait