Jakarta · Senin, 21 September 2026Cari
WargaKonoha

Indonesia Kembangkan BBM dari Batu Bara, China Sudah Lebih Dulu

Presiden Prabowo Subianto menyatakan rencana Indonesia mengembangkan teknologi konversi batu bara menjadi bensin, mengikuti jejak China yang sudah lebih dulu memproduksi minyak, gas, dan bahan kimia dari batu bara untuk memperkuat ketahanan energi. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang baru saja menerapkan campuran solar B50 (50 persen minyak kelapa sawit) sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor bahan bakar. Prabowo menegaskan bahwa program tersebut berhasil membuat Indonesia berhenti mengimpor solar sejak 1 Juli 2026, sekaligupanya mengurangi dampak krisis energi global yang dipengaruhi konflik geopolitik.

Di sisi lain, China telah lebih jauh dalam pengembangan industri batu bara menjadi produk energi. Mongolia Dalam, wilayah penghasil batu bara terbesar China, berencana membangun pusat konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia. Pada 2024, produk hasil konversi batu bara hanya menggantikan sekitar 6 persen dari total impor gas dan minyak mentah China, namun pengembangan terus berlanjut. Pada Mei 2026, pemerintah China menyetujui proyek batu bara menjadi olefin senilai Rp51,5 triliun di Ordos dengan kapasitas 800 ribu ton per tahun.

Meskipun pengembangan ini mendukung kemandirian energi, China juga menghadapi tantangan emisi karbon. Pemerintah Mongolia Dalam berupaya menyeimbangkan pemanfaatan batu bara dengan pengembangan energi bersih, termasuk hidrogen hijau. Mongolia Dalam memproduksi sekitar 1,25-1,28 miliar ton batu bara per tahun, dengan sekitar dua pertiga berasal dari Ordos yang kini dikembangkan sebagai pusat industri petrokimia berbasis batu bara.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait