Kini Lebih Leluasa Berpolitik, Etnis Tionghoa Dinilai Semakin Inklusif
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Partisipasi politik etnis Tionghoa di Indonesia semakin inklusif dan menunjukkan komitmen kuat terhadap bangsa Indonesia. Fenomena ini terlihat jelas dalam diskusi publik bertajuk 'Bagi Indonesia: Kontribusi Tionghoa dalam Ranah Politik' yang diikuti oleh berbagai organisasi Tionghoa seperti Perhimpunan INTI, IPTI, Aspertina, dan FSI. Para pemuka menegaskan bahwa etnis Tionghoa tidak lagi hanya fokus pada bidang ekonomi, tetapi juga aktif dalam isu politik lokal dan nasional, sekaligus mengikis anggapan lama tentang loyalitas yang diragukan sejak masa Orde Baru.
Menurut Lidya Christin Sinaga dari BRIN, partisipasi politik Tionghoa telah berevolusi seiring demokratisasi pasca-1998. Awalnya, basis dukungan politik etnis ini terbatas pada komunitas Tionghoa itu sendiri, namun kini semakin terbuka ke kelompok lain. Hal ini juga membantu mendobrak stereotip bahwa Tionghoa hanya dominan di sektor ekonomi. Daniel Johan, anggota DPR RI dari PKB, menekankan perlunya pengkaderan politik yang inklusif dan bebas rasis agar kontribusi Tionghoa dapat berkembang tanpa diskriminasi.
Dr. Isyak Meirobie, asisten khusus presiden bidang komunikasi, menekankan pentingnya penggunaan teknologi digital oleh Tionghoa untuk menyebarkan nasionalisme Indonesia secara positif. Ia menegaskan bahwa Pancasila menjadi landasan persatuan, dan istilah seperti 'kita' lebih relevensi daripada 'kami' dalam konteks kebangsaan. Dengan demikian, partisipasi politik Tionghoa dianggap sebagai langkah konkret untuk memperkuat persatuan dan kemajuan bangsa Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Kemendagri Dorong Sistem Politik Inklusif bagi Generasi Muda
JPNN.com · 31 Agustus 2026 pukul 20.09
Yasonna Sebut Kedaulatan Rakyat Tak Cukup Dibahas dari Sisi Filosofi
Detik.com · 11 September 2026 pukul 17.49
Walkot Semarang Puji Toleransi Lintas Agama yang Warnai MTQ Nasional XXXI
Detik.com · 10 September 2026 pukul 13.36
Prabowo: Bersaing dan Kritik Boleh, Tapi Tetap Rukun dan Bersahabat
SINDOnews · 10 September 2026 pukul 09.09