Jakarta · Selasa, 8 September 2026Cari
WargaKonoha

Kongsi Prabowo-Jokowi Menuju 2029 Disinyalir Retak, Disebut 'Tak Ada yang Kebetulan'

Masa bulan madu politik antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai mulai melemah menjelang dua tahun pemerintahan. Pengamat politik Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia (PPI) menyampaikan dalam forum Akbar Faizal Uncensored pada 3 September 2026 bahwa sejumlah manuver elite, termasuk safari politik Jokowi ke Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan persiapannya untuk Jawa Barat, menjadi sinyal bahwa kerja sama politik keduanya sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Adi menilai Jokowi perlu membangun faksi dan kekuatan politik sendiri agar tidak terlalu bergantung pada kubu lain, termasuk terhadap vaksi Hambalang yang selama ini mendukungnya. Dinamika ini juga dikaitkan dengan pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai potensi 'retakan sejarah' serta munculnya relawan yang mendukung duet Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk Pemilu 2029. Adi menegaskan bahwa kemunculan berbagai manuver politik ini tidak bersifat acak. Ia menilai rangkaian dinamika tersebut menjadi indikasi mulai menguatnya faksi-faksi politik di dalam kekuasaan, sekaligus membuka kemungkinan perubahan peta politik menjelang Pemilu 2029. Budi Arie Setiadi juga memberikan sinyal bahwa pihaknya siap mengambil jalan politik sendiri jika kerja sama dengan kubu Jokowi tidak berlanjut. Menurutnya, jika tidak dijak berkoalisi, pihaknya akan maju sendiri, entah dengan siapapun. Pernyataan ini memperkuat gambaran mengenai kemungkinan terbentuknya konfigurasi politik baru menjelang kontestasi 2029, di tengah munculnya sejumlah inisiatif dari berbagai kelompok politik.

Berita terkait