Kremlin Beri Syarat Putin-Zelensky Bertemu, Perjanjian Damai Harus Rampung
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kremlin menyatakan pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky belum dapat dilakukan tanpa kesepakatan yang jelas terlebih dahulu. Juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov menjelaskan bahwa perjanjian damai bukanlah kesepakatan sederhana, melainkan proses penyelesaian kompleks yang melibatkan banyak detail. Pertemuan tersebut, jika terjadi, harus memiliki tujuan nyata untuk merampuhkan solusi konflik, bukan sekadar membahas detail teknis. Peskov juga menuding Ukraina belum menunjukkan keseriusan dalam proses penyelesaian perang, dengan Moskow masih melihat sikap Kyiv sebagai bentuk ketidakengganan untuk terlibat secara nyata.
Laporan sebelumnya menyebutkan kemungkinan pertemuan trilateral antara Putin, Zelensky, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Direktur CIA AS John Ratcliffe dilaporkan telah mengunjungi Moskow untuk membahas kemungkinan pertemuan tersebut, sekaligus memperingatkan agar Rusia tidak menyerang anggota NATO. Namun, Trump membantah klaim tersebut dan menyatakan kunjungan Ratcliffe berkaitan dengan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Ukraina.
Konteks ini menunjukkan bahwa diplomasi masih menjadi jalur utama untuk menyelesaikan konflik, meskipun hambatan dari kedua belah pihak masih tinggi. Kremlin menekankan bahwa pertemuan para pemimpin harus didahului oleh kemajuan substansial dalam perundingan, sementara AS dan Ukraina tampaknya masih mencari pendekatan yang dapat diterima semua pihak.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
VOI · 1 September 2026 pukul 13.30
Presiden Zelensky Mengklaim Presiden Putin Ingin Perang Terus Berlanjut
Berita terkait
Babak Baru Perang Rusia-Ukraina, Putin Bongkar 'Borok' Zelensky
CNBC Indonesia · 23 Agustus 2026 pukul 21.30
Ini Bukti Kemenangan Diplomasi Rusia! Putin: 30 Negara Tawarkan Proposal Inovasi
SINDOnews · 30 Agustus 2026 pukul 04.40
Kunjungan Rahasia CIA ke Moskow Dipicu Putin dan Trump Sama-sama Kalah Perang
SINDOnews · 30 Agustus 2026 pukul 01.10
Iran: Trump Mengidap Skizofrenia Hormuz
SINDOnews · 29 Agustus 2026 pukul 06.28