Menata perdagangan strategis untuk masuk rantai nilai teknologi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Indonesia mengembangkan Manajemen Perdagangan Strategis (STM) untuk mengawasi perdagangan barang dan teknologi dwiguna guna memperkuat posisi dalam rantai nilai teknologi global, termasuk semikonduktor, AI, dan kedirgantaraan. Langkah ini krusial karena ekspor perangkat semikonduktor diproyeksikan meningkat dari 1,5 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 4,1 miliar dolar AS pada 2025. STM bertujuan mencegah penyalahgunaan teknologi sensitif sekaligus menjamin kelancaran perdagangan sah melalui sistem klasifikasi barang, verifikasi pengguna akhir, dan pemeriksaan risiko.
Implementasi STM merupakan komitmen dalam Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan Amerika Serikat serta Resolusi DK PBB 1540. Pemerintah akan menerapkan sistem ini secara bertahap dan berbasis risiko melalui integrasi Indonesia National Single Window (INSW) untuk mengurangi biaya kepatuhan dan ketidakpastian investasi. Keberhasilan STM bergantung pada kejelasan klasifikasi barang, integrasi data lintas lembaga, serta peningkatan kapasitas SDM pengawas agar tidak menghambat industri yang bergantung pada pasokan komponen luar negeri.
Bagikan
Berita terkait
Pakai STM, RI Mau Fokus Kembangkan Industri Teknologi Tinggi
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 06.25
Prabowo Reshuffle Kabinet 7 Kali, Pengusaha Ungkap Nasib RI Tahun 2027
CNBC Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 20.20
Belajar dari 3 Langkah Berani Frans Seda di Tengah Gejolak Ekonomi Indonesia
JPNN.com · 2 Oktober 2026 pukul 19.42
Pemangkasan BUMN Ditargetkan Sisa 200 Perusahaan Tahun Ini
SINDOnews · 2 Oktober 2026 pukul 17.24