Mendag Ungkap Alasan RI Ngotot Kejar Perjanjian Dagang dengan AS
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan alasan Indonesia ingin menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS). AS merupakan mitra dagang terpenting dengan surplus perdagangan mencapai US$18,11 miliar pada 2025, dengan total nilai ekspor Indonesia ke AS sebesar US$30,96 miliar dan impor US$12,85 miliar. Pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai 11 persen dari total ekspor nasional, sehingga perjanjian dagang dianggap strategis untuk melindungi dan mengembangkan ekspor ke pasar tersebut.
Indonesia sudah lebih dari 30 tahun berusaha mendapatkan perjanjian dagang dengan AS, awalnya melalui Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) sejak 1996. Namun, TIFA tidak berkembang menjadi perjanjian penuh karena AS menilai Indonesia hanya sebagai pasar satu arah. Akhirnya, pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tercapai perjanjian dagang resiprokal bernama Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Budi juga menyoroti tantangan informasi di era media sosial, di mana berita hoaks cenderung lebih viral dibandingkan berita faktis. Ia menyerukan agar generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki literasi media yang baik untuk membedakan berita benar dari yang tidak benar.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 25 September 2026 pukul 19.03
PLBN Entikong Catat Nilai Ekspor Capai Rp 111,7 Miliar di Agustus 2026
Berita terkait
Indonesia-Bulgaria Bidik Kerja Sama Industri, Ini Sektor yang Dilirik
Warta Ekonomi · 21 September 2026 pukul 20.14
Ekspor Diprediksi Melaju, Indonesia Harus Terhubung dengan Pasar Dunia
JPNN.com · 20 September 2026 pukul 00.20
Mendag dorong perdagangan menjadi penggerak investasi ekspor
ANTARA News · 18 September 2026 pukul 17.33
Mendag Wanti-Wanti UMKM Lokal, RI Diserbu Produk Asing Bermodal Besar
CNBC Indonesia · 9 September 2026 pukul 17.50