Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ngeri! Sengketa dengan Investor, Bos Danantara Buka Borok BUMN Farmasi

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengungkapkan sejumlah permasalahan serius yang dihadapi BUMN di sektor farmasi, khususnya PT Kimia Farma Tbk. Menurutnya, kondisi keuangan Kimia Farma sedang tidak sehat akibat keputusan investasi yang berlebihan dan tidak mempertimbangkan tingkat pengembalian (ROI). Pabrik yang dibangun dengan kapasitas besar hanya memiliki utilisasi sekitar 40%, sehingga menyebabkan beban biaya pendanaan melalui utang dan depresiasi yang tinggi, berdampak pada kerugian perusahaan. Selain itu, anak usaha Kimia Farma Apotek yang mengelola lebih dari 1.000 apotek sempat menerima investasi Rp1,5 triliun dari Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra asal China, namun proses verifikasi data inventaris menunjukkan adanya data palsu yang tidak dapat diverifikasi secara akurat.

Masalah data palsu pada inventaris akhirnya memicu sengketa dengan investor, sehingga Kimia Farma diharuskan mengembalikan investasi serta membayar denda dan biaya terkait. Untai sengketa ini, Danantara mendorong restrukturisasi dengan mengganti manajemen dan memperbaiki sistem teknologi informasi di Kimia Farma Apotek. Di sisi lain, keterbatasan keuangan juga menyebabkan jumlah produk Kimia Farma terus berkurang hingga tersisa hanya 99 produk. Untuk menyelamatkan perusahaan, Danantara melakukan injeksi ekuitas dan restrukturisasi utang, yang akhirnya mulai memberikan hasil hingga Kimia Farma mampu mencatatkan keuntungan tahun ini.

Namun, Dony mengakui bahwa tidak seluruh BUMN bisa diselamatkan. Sebagai contoh, ia menyebutkan Indofarma yang dinilai memiliki skala bisnis terlalu kecil, kapasitas produksi terbatas, minimnya produk unggulan, serta kondisi utang dan aset yang tidak seimbang. Danantara telah menetapkan parameter untuk menentukan BUMN mana yang layak diselamatkan atau harus masuk proses likuidasi, dengan penyelamatan dilakukan secara bertahap mengingat ribuan entitas perlu ditangani.

Berita terkait