Pendatang China Ini Jualan Kopi, Berubah Jadi Orang Terkaya RI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Go Soe Loet, perantau asal Fujian, China, tiba di Surabaya pada 1920-an dan memulai usaha kopi rumahan. Ia memilih biji kopi berkualitas terbaik, lalu menggoreng dan menumbuknya menjadi bubuk untuk dijual. Karena banyak saingan, ia membedakan produknya dengan kemasan kertas cokelat bermerek HAP Hootjan, yang berarti Kapal Api, terinspirasi dari pengalamannya naik kapal api saat menuju Jawa.
Anaknya, Go Tek Whie yang kemudian dikenal sebagai Soedomo Mergonoto, meneruskan dan memperbesar bisnis. Ia mengubah merek menjadi Kapal Api pada 1970-an. Saat mesin lama berusia lebih dari 100 tahun, ia sempat membuat mesin sendiri dengan biaya Rp 870 ribu, tetapi kualitas kopi memburuk. Ia akhirnya membeli mesin mahal dari Jerman seharga Rp 123 juta dengan pinjaman dari Bank Pembangunan Indonesia. Mesin itu meningkatkan kualitas dan hasil produksi, lalu ia mendirikan PT Santos Jaya Abadi di Sidoarjo.
Soedomo juga berani beriklan di TVRI sehingga Kapal Api dikenal luas dan ekspansi ke Palembang, Makassar, Medan, dan Pontianak. Pada 1985, kopi Kapal Api diekspor ke Timur Tengah, Taiwan, Hongkong, dan Malaysia. Perusahaan kemudian meluncurkan Kopi ABC, kedai kopi Excelso pada 1992, serta produk Good Day, Ceremix, dan Permen Relaxa.
Bagikan
Berita terkait
Prabowo Blak-blakan Diminta Jadi Duta Kopi Usai Pensiun
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 18.39
Penipuan Kuras Rp9,1 T Saldo Warga RI, Setiap Hari 1.000 Orang Melapor
CNBC Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 19.30
Putri Mahkota Victoria dari Swedia Akan ke Indonesia September Ini, Kunjungi NTT
kumparan · 16 Agustus 2026 pukul 19.00
BPJS Ketenagakerjaan dan HDCI Lindungi 5.000 Ojol hingga 3 Tahun
JPNN.com · 16 Agustus 2026 pukul 18.30