Pesan Luhut untuk Pemimpin: Harus Mau Mendengar, Jangan Merasa Paling Benar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261038/original/058349000_1781675628-Ketua_Komite_Percepatan_Transformasi_Digital_Pemerintah__KPTDP___Luhut_Binsar_Pandjaitan-17_Juni_2026c.jpg)
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menekankan pentingnya seorang pemimpin yang terbuka menerima masukan dan mengandalkan kajian sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, sikap merasa paling benar justru menjadi penghalang utama dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan berisiko menyebabkan kesalahan eksekusi di lapangan. Luhut menegaskan bahwa setiap masalah dapat terselesaikan jika pemimpin bersedia mendengarkan dan memberi ruang bagi tim ahli untuk mengkaji secara mendalam.
Luhut menyarankan agar pemerintah menguji kebijakan secara bertahap melalui simulasi atau proyek percontohan (piloting) sebelum diterapkan secara masif. Sebagai contoh, pengembangan Government Technology (GovTech) diawali dengan uji coba di Banyuwangi, yang mengungkapkan bahwa lebih dari 77% bantuan sosial tidak tepat sasaran. Hasil kajian ini kemudian digunakan untuk memperbaiki efisiensi penyaluran bantuan.
Selain itu, Luhut mengimbau para pemimpin untuk tetap optimis namun tetap melakukan evaluasi objektif melalui kajian bertahap dan berlanjut. Prinsip ini, menurutnya, harus diterapkan secara universal dalam kepemimpinan, termasuk dengan memberikan teladan yang baik dan menjaga kepercayaan yang telah dipercayakan.
Bagikan
Berita terkait
Mendagri Minta Peserta Sespim Lemdiklat Polri Susun Kebijakan Berbasis Sains
kumparan · 31 Agustus 2026 pukul 17.13
Kakanwil Milawati Uji Peserta PKN II, Minta Proyek Perubahan Berdampak Nyata
JPNN.com · 25 September 2026 pukul 19.57
Data Bansos hingga Subsidi Tak Sinkron, Baleg DPR Ingin Data Bukan Arsip
Warta Ekonomi · 23 September 2026 pukul 17.45
AHY: Demokrat Bagian Pemerintahan Prabowo, Tapi Tetap Jujur Terhadap Kenyataan Rakyat
SINDOnews · 5 September 2026 pukul 22.24