Jakarta · Jumat, 21 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Seporsi Gizi dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan

Sebelum azan subuh, ibu rumah tangga Nina Martina Iswandari (45) bangun lebih dulu untuk menyiapkan bekal tiga anaknya yang sekolah di Kelurahan Kali Rungkut, Surabaya. Rutinitas ini sudah dijalankannya bertahun-tahun, bahkan sebelum Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah. Dengan tiga anak yang memiliki jadwal dan selera berbeda, menyiapkan bekal setiap pagi justru menjadi pekerjaan yang melelahkan. Namun, kehadiran MBG mulai mengurangi beban dan pengeluaran keluarganya, sekaligus membebaskan Nina dari keharusan menyiapkan menu harian yang disukai semua anak.

Di sisi lain, Febrina Handayani, guru BK dan koordinator MBG di SMP Negeri 23 Surabaya, menyaksikan dampak positif program ini. Sebelum MBG, banyak siswa lebih memilih jajanan praktis di kantin yang kurang bergizi. Sekarang, terutama bagi siswa dari keluarga ekonomi terbatas, MBG menjadi penopang penting, bahkan menjadi alasan utama untuk tetap hadir di sekolah. Para siswa juga terlihat lebih fokus dan termotivasi belajar, serta interaksi sosial antar-murid pun semakin kompak.

Febrina menilai MBG bukan sekadar program gizi, tetapi bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan bangsa, terutama dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, sekolah negeri yang sudah bebas biaya pendidikan, buku, hingga makan siang, seharusnya menghapus segala alasan bagi anak untuk tidak datang ke sekolah. Ia mendukung agar MBG tetap dilanjutkan, namun menitipkan agar penyalurannya juga merata, terutama ke sekolah di daerah 3T.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait