Siasat Kaleng Kosong, Cara Red Bull Kuasai Pasar Tanpa Iklan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2055120/original/010126800_1522846492-Foto_4.jpeg)
Red Bull sukses menguasai pasar minuman energi global lewat strategi pemasaran unik tanpa banyak iklan televisi. Perjalanan mereka dimulai pada 1982 ketika Dietrich Mateschitz menemukan Krating Daeng di Thailand. Dengan modal awal US$ 500.000, Mateschitz dan Chaleo Yoovidhya mendirikan Red Bull GmbH pada 1984, tetapi produk baru diluncurkan pada 1987. Red Bull menciptakan kategori 'energy drink' dan menggunakan strategi guerrilla marketing seperti menyebarkan kaleng kosong di tempat umum untuk menciptakan buzz. Mereka juga aktif dengan program edukasi dan distribusi sampel gratis, terutama di kalangan mahasiswa. Pada 2000, penjualan mencapai 200 juta kaleng. Red Bull tidak menyalurkan slot iklan mahal, melainkan menciptakan konten budaya ekstrem sendiri seperti acara Flugtag dan memiliki Red Bull Media House yang menghasilkan konten multimedia. Puncaknya adalah aksi Stratos 2012 dengan Felix Baumgartner. Strategi mereka mengubah produk komoditas menjadi merek budaya.
Bagikan
Berita terkait
Feel Good Network Sambut Lengua sebagai Social-First Creative Agency
JPNN.com · 26 Agustus 2026 pukul 20.55
5 Alasan Mengapa Jual Properti Lewat Platform Digital Seperti Rumatemu Lebih Cepat Laku
VOI · 26 Agustus 2026 pukul 17.58
Perkuat Pertumbuhan Bisnis, Bank Sinarmas Resmikan Priority Lounge di BSD Tangerang
Warta Ekonomi · 26 Agustus 2026 pukul 17.13
Video Call Jadi Trik Baru untuk Susupkan Iklan
Detik.com · 25 Agustus 2026 pukul 21.15