Siasat Tersembunyi Brompton: Menjual Gengsi, Bukan Cuma Besi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,304,0)/kly-media-production/medias/4341377/original/044227900_1677600508-WhatsApp_Image_2023-02-28_at_10.44.07_PM__1_.jpeg)
Brompton, merek sepeda lipat asal Inggris, berhasil mengubah alat transportasi menjadi simbol gaya hidup prestisius. Didirikan oleh Andrew Ritchie pada 1975 di London, sepeda ini mengusung mekanisme lipat tiga bagian yang inovatif. Produksi komersial dimulai akhir 1980-an di pabrik Chiswick, lalu pindah ke Greenford. Kini, lebih dari 80% produksi diekspor ke berbagai negara. Di bawah CEO Will Butler-Adams, Brompton mempertahankan manufaktur di London sebagai jaminan kualitas. Filosofi 'evolution, not revolution' membuat Brompton terus menyempurnakan komponen, melahirkan varian titanium (T Line) dan Brompton Electric. Keunggulan teknis seperti teknik brazing manual dan roda 16 inci menjamin stabilitas dan nilai jual kembali tinggi. Brompton sukses membangun positioning sebagai simbol status sosial urban, terutama di Indonesia seperti di kawasan SCBD Jakarta. Merek ini tidak lagi dipandang sebagai alat transportasi murah, melainkan ikon gaya hidup cerdas, efisien, dan elegan.
Bagikan
Berita terkait
Perut Buncit Pria Bisa Turunkan Hormon Testosteron, Ini 4 Cara Mengatasinya
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 17.01
Studi Temukan Pengguna Keranjang Belanja AI Habiskan Uang 32 Persen Lebih Banyak
VOI · 15 Agustus 2026 pukul 11.30
Memahami Kebiasaan Finansial yang Perlu Dimiliki Sejak Muda
VOI · 15 Agustus 2026 pukul 02.21
Bukan Sekadar Ikut Tren, Ini yang Perlu Diketahui Sebelum Konsumsi Suplemen
VOI · 14 Agustus 2026 pukul 12.25