Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Terkuak, Ini Rahasia Raksasa Teknologi Cari Cuan Lewat AI

Kekhawatiran investor terhadap belanja modal besar perusahaan teknologi untuk AI mulai mereda karena bisnis cloud terbukti menjadi mesin keuntungan. Amazon, Microsoft, dan Alphabet mencatat lonjakan kinerja cloud seiring ledakan permintaan AI. Pelanggan berlomba menyewa chip dan infrastruktur komputasi untuk menjalankan model AI, bahkan kapasitas penyediaan menjadi tantangan lebih besar daripada minimnya permintaan. Model bisnis cloud dinilai lebih matang dibandingkan monetisasi AI lain seperti iklan chatbot atau langganan model.

Amazon Web Services (AWS) membukukan margin laba operasional 39% pada kuartal II 2026, dengan investasi perangkat mencapai titik impas kurang dari tiga tahun dan mayoritas kontrak pelanggan AI berdurasi minimal lima tahun. Saham Amazon melonjak setelah AWS tumbuh 37%, melampaui ekspektasi 31%. Azure Microsoft tumbuh 43%, dan Google Cloud tumbuh 82%, meredakan kekhawatiran investor. Gabungan kapitalisasi pasar Amazon dan Microsoft bertambah sekitar US$950 miliar. AWS menandatangani kontrak US$100 miliar dengan Anthropic. Survei Piper Sandler menunjukkan perusahaan berencana menaikkan belanja TI 5% tahun ini, mayoritas untuk cloud.

Jassy optimistis AWS bisa mencapai pendapatan tahunan US$1 triliun, dibandingkan perkiraan US$170 miliar tahun ini. Namun, Azure dan Google Cloud tumbuh lebih cepat, berpotensi melampaui AWS. Risiko tetap ada jika euforia AI berakhir dan kontrak dinegosiasi ulang. Perusahaan cloud dinilai lebih kuat dibandingkan pemain tanpa cloud seperti Meta, yang sahamnya turun 5% setelah menaikkan proyeksi belanja modal. Wall Street kini menilai perusahaan dengan cloud kuat paling diuntungkan.

Berita terkait