Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Tren Lari Marathon: Guru Besar UGM Peringatkan Bahaya Cedera Otot dan Jantung Tanpa Persiapan

Tren mengikuti lomba lari jarak jauh seperti 10K, half marathon, hingga full marathon tanpa persiapan fisik yang matang semakin populer, namun menimbulkan risiko kesehatan serius. Guru Besar Fisiologi Olahraga Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, memperingatkan bahwa berlari dengan intensitas tinggi tanpa adaptasi tubuh dapat menyebabkan kerusakan otot dan beban berat pada jantung. Menuruhnya, banyak pemula yang langsung mengikuti lomba jarak jauh meski belum pernah terbiasa berolahraga secara rutin, sehingga tubuh tidak siap menanggung beban ekstrem tersebut.

Untuk menghindari kelelahan kronis (overtraining), Prof. Denny menyarankan agar pelari non-atlet melakukan persiapan bertahap sebelum berpartisipasi. Latihan intensitas tinggi sebaiknya dilakukan paling dua kali seminggu menjelang hari lomba. Sebaiknya lakukan latihan aerobik tiga hingga lima kali seminggu selama 30 hingga 45 menit, yang dapat ditingkatkan hingga 60 menit secara bertahap. Intensitas harian sebaiknya tetap pada tingkat sedang, yakni masih mampu berbicara dengan kalimat utuh tanpa terengah-engah.

Prof. Denny juga menekankan bahwa rutinitas olahraga yang terukur penting tidak hanya untuk kompetisi, tetapi juga sebagai investasi kesehatan jangka panjang. Kemampuan fisik manusia mencapai puncaknya pada usia 20 hingga 30 tahun. Membentuk kebiasaan olahraga sejak dini efektif untuk memperlambat penurunan fungsi organ dan menjaga kemandirian fisik di masa depan.

Berita terkait