Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Wamenko Pangan: Pengelolaan Lingkungan Bukan Biaya, tapi Investasi

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa pengelolaan lingkungan seharusnya dilihat sebagai investasi, bukan biaya, dalam ajang Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 di Bali. Menurutnya, dunia usaha perlu mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan ke dalam strategi bisnis untuk mencapai efisiensi, nilai ekonomi, dan keberlanjutan jangka panjang. ENSIA 2026 mengangkat tiga isu strategis: ketahanan pangan, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, serta transisi energi bersih. Contoh penerapan nyata adalah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), yang mengubah masalah sampah menjadi sumber energi dan nilai ekonomi. Hanif juga mendorong inovasi di sektor pangan melalui pengurangan food loss dan food waste, peningkatan efisiensi pascapanen, dan pengembangan ekonomi sirkular. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat untuk mereplikasi inovasi yang terbukti berdampak. ENSIA 2026 diselenggarakan oleh PT SUCOFINDO (Persero) dengan tema "Innovation for Sustainable Business and Resilient Community". Direktur Utama Sandry Pasambuna menyatakan bahwa ajang ini memberi kesempatan bagi perusahaan untuk menunjukkan inovasi keberlanjutannya, bertukar praktik terbaik, dan memperluas jejaring. Partisipasi pada ENSIA juga dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan yang mengikuti Program Penilaian Peringkat Kinerjanya (PROPER). Pada edisi 2026, tercatat 253 perusahaan berpartisipasi dengan 954 paper dan 48 local hero, meningkat dari 178 perusahaan dan 690 paper pada tahun sebelumnya. Sandry menyampaikan harapan agar ENSIA terus berkembang sebagai platform inovasi keberlanjutan yang inklusif dan berdampak, serta inovasi yang dihadirkan dapat direplikasi untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan Indonesia.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait