Emas dan Rupiah Reagoi Kenaikan Suku The Fed, Pasar Tunggu Instrumen Moneter
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Harga emas dunia turun 2,75% ke US$4.474,45 per ons pada Jumat, 28 Agustus 2026, setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan inflasi belum melambat dan kebijakan moneter masih perlu penyesuaian. Penurunan ini terjadi dalam konteks spekulasi kenaikan suku bunga pada September, dengan peluang kenaikan suku bunga September naik dari 36% ke 56%, sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 80%. Sebelumnya, harga emas pernah mencapai puncak US$4.696,18 pada Selasa sebelumnya.
Di sisi lain, rupiah Indonesia berkonsolidasi di level Rp17.693 per USD pada akhir pekan ke-7 2026, dengan penguatan tipis 0,01% secara mingguan. Kurs acuan JISDOR Bank Indonesia naik dari Rp17.705 ke Rp17.703. Pasar menahan diri dari posisi agresif menunggu data inflasi resmi.
Analis Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rentang rupiah pekan depan antara Rp17.600 hingga Rp17.900, dipengaruhi oleh faktor domestik dan eksternal serta kebijakan moneter Bank Indonesia. Kedua aset ini menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap sinyal kebijakan moneter The Fed, meskipun reaksi pasar terhadap kenaikan suku bunga September tampaknya lebih kuat pada emas dibandingkan rupiah.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Liputan6.com
Harga Emas Hari Ini Tersungkur Gara-Gara Komentar Ketua The Fed
29 Agustus 2026 pukul 07.38 · Baca aslinya ↗
SINDOnews
Rupiah Sepekan Bertahan di Rp17.693, Pasar Tunggu Data Inflasi dan Sinyal The Fed
30 Agustus 2026 pukul 11.01 · Baca aslinya ↗