Evakuasi Orangutan dan Perlindungan Satwa Liar dari Karhutla di Kalimantan Barat
Rangkuman gabungan dari 3 media · disusun dengan AI
Tiga orangutan berhasil dievakuasi dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, dalam operasi yang melibatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Barat, Wildlife Rescue Unit (WRU), YIARI, Yayasan Palung, dan masyarakat melalui LPHD Padu Banjar dan Penjalaan. Operasi pertama dilakukan pada 12 September 2026 di Desa Penjalaan, mengevakuasi induk betina berusia sekitar 20 tahun bernama Mama Penja bersama anaknya yang berusia satu tahun. Mama Penja mengalami luka bakar dan mendapatkan pengobatan serta antibiotik sebelum dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI. Pada hari yang sama, tim juga mengevakuasi orangutan jantan dewasa berusia sekitar 15 tahun bernama Kumbang di Desa Padu Banjar, yang sebelumnya pernah diselamatkan pada Februari 2022 dan ditemukan dalam kondisi relatif sehat dengan luka lama bekas peluru senapan angin serta gejala batuk akibat paparan asap karhutla. Ketiganya sedang menjalani observasi dan penanganan medis di Pusat Rehabilitasi YIARI, dengan rencana pelepasliaran ditunda hingga kondisi cuaca membaik dan hutan aman dari ancaman kebakaran. Sehingga, hingga saat ini, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah mencatat 23 orangutan, sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelua yang diselamatkan dari dampak karhutla. Tim tetap melakukan pemantauan terhadap satwa di kawasan yang terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam. Secara nasional, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 479 titik, menurun 558 poin dibandingkan sehari sebelumnya. Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap atau mengevakuasi satwa liar secara mandiri, melainkan segera melaporkan keberadaan satwa terdampak kepada petugas dengan menyertakan lokasi, kondisi, dan dokumentasi apabila aman. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyegelaskan lokasi terdampak karhutla di Desa Sungai Awan Kiri, Kalimantan Barat, dan menekankan perlunya perlindungan terhadap satwa liar. Ia menyampaikan bahwa karhutla tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga berbagai spesies satwa yang hidup di kawasan hutan dan rentan terdampak akibat keterbatasan mobilitas dan kemampuan mereka menyampaikan ancaman. Raja Juli menginstruksikan BKSDA dan pihak terkait untuk menggabungkan upaya pemadaman api dengan penyelamatan satwa yang terancam. Ia juga meminta BKSDA memperkuat perlindungan satwa liar dari ancaman karhutla, menekankan bahwa satwa liar tidak dapat meminta bantuan atau memberi tanda ketika berada dalam situasi genting, sehingga perlindungan aktif menjadi penting. Upaya penyelamatan satwa harus berjalan paralel dengan operasi pemadaman api, dan penyelamatan satwa perlu menjadi prioritas bersama dalam penanganan karhutla. Dalam konteks penyelamatan khusus orangutan, Kementerian Kehutanan menyiapkan jalur pelaporan bagi masyarakat dan memastikan tim BKSDA beserta mitra siap melakukan evakuasi dengan dukungan dokter hewan. Warga yang menemukan orangutan di sekitar permukiran desa diminta tidak menanganani secara mandiri, tidak memberi makan, dan segera melaporkan melalui call center yang tersedia agar tim BKSDA dapat melakukan evakuasi.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Media Indonesia
Tiga Orangutan Terdampak Karhutla Dievakuasi di Kayong Utara
17 September 2026 pukul 18.16 · Baca aslinya ↗
JawaPos
Karhutla Mengancam Satwa Liar, Menhut Perintahkan Pihak Terkait Beri Perlindungan
18 September 2026 pukul 11.45 · Baca aslinya ↗
CNN Indonesia
Badan Konservasi SDA Diminta Perkuat Lindungi Satwa Liar dari Karhutla
19 September 2026 pukul 02.30 · Baca aslinya ↗