Jakarta · Jumat, 21 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Gaza Tetap Tempat Paling Berbahaya bagi Pekerja Kemanusiaan di 2025

JAKARTA - Jalur Gaza, Palestina tetap menjadi lokasi paling mematikan bagi pekerja kemanusiaan pada tahun 2025, menyumbang 186 dari lebih dari 350 kematian pekerja kemanusiaan di seluruh dunia, menurut laporan PBB. OCHA melaporkan 68 persen kematian di Gaza disebabkan oleh serangan udara, sementara Sudan menempati peringkat kedua dengan 71 korban jiwa, sebagian besar akibat tembakan senjata api ringan. Republik Demokratik Kongo menyusul dengan 97 kasus kekerasan, yang meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus penculikan oleh kelompok kriminal dan aktor non-negara meningkat hampir dua kali lipat, mencapai 235 kasus, sementara 280 kasus penahanan dan penangkapan pekerja kemanusiaan dilakukan oleh aktor negara. Yaman, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Myanmar, dan Palestina menyumbang 75 persen dari total penahanan tersebut. Perjalanan darat tetap menjadi situasi paling berbahaya, mencakup 27 persen dari insiden kekerasan, diikuti oleh kantor dan lokasi proyek yang menyumbang 20 persen.

Sementara itu, juru bicara PBB Stephane Dujarric melaporkan bahwa 94 persen dari 2,1 juta penduduk Jalur Gaza membutuhkan tempat tinggal dan perlengkapan rumah tangga dasar. Situasi ini disebabkan oleh penjajahan dan blokade Israel yang masih berlangsung. Dujarric menyampaikan ini dalam konferensi pers di New York untuk memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia pada 19 Agustus. Menurut laporan OCHA, warga sipil Palestina di Gaza terus tewas, terluka, atau terdampak serangan udara, tembakan artileri, dan tembakan senjata Israel, termasuk anak-anak. Lebih dari empat dari lima keluarga Gaza kini hidup dalam kondisi kritis atau sangat parah di tempat penampungan, kekurangan bahan bakar, energi, dan kebutuhan rumah tangga. Pembatasan ini memengaruhi kemampuan warga untuk tidur, memasak, mandi, menyimpan makanan dan air, mendapatkan penerangan, dan bertahan melawan cuaca ekstrem.

OCHA menekankan bahwa lebih dari 1.000 pekerja kemanusiaan telah tewas dalam tiga tahun terakhir, yang menunjukkan kegagalan pihak yang bertikai dalam menghormati operasi kemanusiaan. Teknologi seperti drone bersenjata semakin meningkatkan risiko, sekaligus menegaskan pentingnya penghormatan hukum perang. Hari Kemanusiaan Sedunia, yang diperingati pada 19 Agustus, mengenang korban pengeboman markas PBB di Baghdad pada 2003 yang menewaskan 22 staf PBB.

Menurut tiap media