Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

IHSG dan Pasar Global: Divergensi Arah pada September

Pada perdagangan Selasa (1/9), IHSG ditutup di level 6.599, naik 1,14 persen atau 74,46 poin, dengan transaksi Rp20,73 triliun dan volume 59,69 miliar saham. Sebanyak 407 saham menguat, 215 terkoreksi, dan 169 stagnan. Sembilan dari 11 sektor menguat, termasuk industri yang naik 3,77 persen, sementara sektor barang baku turun 0,31 persen. Kontras mencengkerang dengan bursa asing yang mayoritas berada di zona merah, seperti Nikkei 225 (-2,79 persen), Hang Seng (-0,93 persen), Straits Times (-0,98 persen), DAX (-1,07 persen), FTSE 100 (-1,11 persen), S&P 500 (-0,33 persen), NASDAQ (-0,12 persen), dan Dow Jones (-0,70 persen).

Sementara itu, pada Kamis (3/9), IHSG membuka pelarian dengan kenaikan 0,56 persen atau 37,05 poin ke level 6.632,83. Pada sesi pembukaan ini, 315 saham menguat, 135 melemah, dan 513 stagnan, dengan nilai transaksi Rp623,1 miliar dan volume 1,47 miliar saham. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif pasar AS, termasuk Dow Jones (+0,6 persen), S&P 500 (+0,5 persen), dan Nasdaq (+0,5 persen), sekaligus redanya tekanan obligasi dan stabilitas harga minyak. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways antara 6.550 hingga 6.650.

Perbedaan mencengkerang terlihat pada jumlah saham yang menguat dan nilai transaksi. Pada Selasa, 407 saham menguat dengan nilai transaksi Rp20,73 triliun, sementara pada Kamis, hanya 315 saham yang menguat dengan nilai transaksi Rp623,1 miliar. Selain itu, arah pasar global juga berbeda: pada Selasa, sebagian besar bursa asing mengalami penurunan, namun pada Kamis, pasar AS justru menunjukkan kenaikan. Di dalam negeri, pemerintah juga menetapkan target RAPBN 2027, termasuk pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per USD, dan suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen.

Menurut tiap media