Jakarta · Selasa, 15 September 2026Cari
WargaKonoha

IHSG dan Saham Tambang: Penjualan Asing dan Koreksi Pasar

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp3,36 triliun pada periode 7-11 September 2026, dengan total nilai penjualan mencapai Rp26,065 triliun dan pembelian hanya Rp22,704 triliun. Tekanan jual ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,66% dan ditutup pada level 6.541,38. Meski demikian, beberapa saham tetap diborong, dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memimpin net buy tertinggi sebesar Rp693,3 miliar, diikuti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp407,1 miliar, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp322,6 miliar.

Pada sesi I perdagangan Senin (14/9/2026), IHSG ditutup melemah 1,70% atau 111,50 poin ke level 6.429,88. Penurunan ini didorong tekanan pada sektor energi (-4,87%), utilities (-4,09%), dan kesehatan (-2,39%). Emiten tambang seperti Bayan Resources (BYAN) dan Merdeka Gold Resources (EMAS) menjadi kontributor terbesar penurunan, masing-masing menekan indeks sebesar 23,84 dan 10,64 poin. Total transaksi pasar mencapai 173,23 juta lot dengan nilai Rp8,01 triliun dan frekuensi sekitar 1,19 juta kali.

Pada perdagangan Selasa (15/9), IHSG turun 0,75 persen atau 48,95 poin menjadi 6.485. Dari 643 saham yang diperdagangkan, 198 menguat, 264 melemah, dan 221 stagnan. Volume perdagangan mencapai 2,21 miliar saham dengan nilai Rp1,3 triliun. Heriditya MNC Sekuritas memprediksi IHSG masih berisiko koreksi jangka pendek, dengan skenario terburuk menguji level 6.290-6.370. Ivan Rosanova Binaartha Sekuritas menyatakan IHSG gagal bertahan di atas SMA-20, berpotensi menguji support Fibonacci 6.290 dan SMA-60. Harga IHSG berada di antara support 6.179-6.370 dan resistance 6.752-7.071.

Menurut tiap media