Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kontroversi Klaim Selat Hormuz dan Respons Internasional terhadap Perang Iran

Iran menegaskan Selat Hormuz sebagai wilayahnya dan menolak klaim Donald Trump yang berencana mendeklarasikan selat tersebut sebagai bagian dari AS setelah perang berakhir. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengakui kekalangan strategis AS dalam konfliknya dengan Teheran serta menyerukan AS menerima kenyataan tersebut secara permanen. Sementara itu, Inggris mengecam keras komentar Benjamin Netanyahu yang menyebut Inggris sebagai 'Republik Islam Inggris', yang dinilai merefleksikan narasi Islamofobia. Trump juga memerintahkan kapal induk AS kembali menggunakan teknologi pelontar jet tempur yang lebih lama, mengurangi penggunaan sistem canggih. Beberapa laporan menyebutkan klaim Trump tentang Selat Hormuz mungkin hanyalah sindiran tanpa dasar nyata. Donald Trump menggunakan gaya komunikasi 'showman' dalam konflik dengan Iran, terutama untuk menarik dukungan basis pemilih di AS. Paul Musgrave dari Georgetown University menyatakan klaim penguasaan Selat Hormuz oleh Trump tidak boleh dimaknai secara harfiah, namun menunjukkan tekad Trump untuk tidak terlihat kalah. Konflik diperkirakan menemui jalan buntu karena kedua belah pihak enggan mengakui kekalahan. AS kemungkinan akan meningkatkan sanksi ekonomi dan serangan siber, sementara Iran tetap menolak negosiasi langsung meskipun ada komunikasi melalui pihak penengah seperti Qatar dan Pakistan.

Menurut tiap media