Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Megathrust di Indonesia: Potensi Gempa Besar dan Upaya Mitigasi Menurut Ahli

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa megathrust adalah zona pertemuan dua lempeng tektonik di mana satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya pada kedalaman kurang dari 50 km. Zona ini berpotensi memicu gempa bumi dengan magnitudo 8 atau lebih, seperti gempa Aceh 2004 dan Nias 2005. Menurut Supartoyo, ahli utama Badan Geologi, gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti, meskipun berbagai metode telah dikembangkan. Para ahli hanya dapat mengidentifikasi wilayah rawan gempa dan tsunami melalui peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) dan Kawasan Rawan Bencana Tsunami.

Wilayah rawan megathrust di Indonesia meliputi barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Bali, Nusa Tenggara, utara Sulawesi, timur laut Sulawesi, hingga timur laut Halmahera. Daryono, mantan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, mengidentifikasi dua zona megathrust yang sedang mengalami seismic gap, yakni zona Mentawai-Siberut dan Selat Sunda. Kedua zona ini belum mengalami gempa besar dalam puluhan hingga ratusan tahun terakhir, sehingga berpotensi untuk 'meledak' dan menyebabkan gempa hingga magnitudo 8 atau lebih serta tsunami. Peta geotektonik menjadi basis utama mitigasi bencana gempa dan tsunami.

Terdapat perbedaan dalam pelaporan magnitudo gempa Aceh 2004 dan Nias 2005. CNBC Indonesia melaporkan kedua gempa tersebut dengan magnitudo 8,5, sementara CNN Indonesia melaporkan gempa Aceh 2004 dengan magnitudo 8 dan Pulau Nias 2005 dengan magnitudo 8,5. Supartoyo menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang megathrust agar tidak mudah panik ketika isu ini muncul.

Menurut tiap media