Jakarta · Minggu, 30 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Megawati dan Penggunaan AI: Perlunya Regulasi, Etika, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri memimpin pertemuan makan siang dengan Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta di Jakarta pada Jumat (28/8/2026), dihadiri oleh ilmuwan Nobel dan Turing Award dalam Science for Development Summit 2026. Dalam kesempatan tersebut, Megawati menceritakan pengalamannya menjadi korban penyalahgunaan AI, yakni video iklan kue yang menggunakan wajahnya dan anggota keluarganya tanpa izin. Ia menyampaikan harapan agar kemajuan AI berorientasi pada kesetaraan antarbangsa dan tidak disalahgunakan untuk hegemoni, hoaks, atau manipulasi yang merendahkan martabat manusia. Megawati juga meminta regulasi dan etika dalam penggunaan teknologi, sekaligus mendorong agar AI dikembangkan untuk kepentingan manusia seperti medis dan rekayasa genetika.

Di sisi lain, dalam UPH Festival 2026, Niel Nielson, Senior Advisor YPPH, menekankan bahwa perkembangan AI akan mengubah berbagai profesi, termasuk medis, hukum, teknik, dan bisnis. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti kemampuan manusia dalam pengambilan keputusan, karena meskipun AI mampu menghitung dan memproses data dengan cepat, ia tidak dapat mengasihi, membedakan moral, atau berkorban. Penggunaan AI harus tetap dilandasi dengan sikap kritis, bijaksana, dan bertanggung jawawab.

Beberapa perbedaan tampak dalam pelaporan. JPNN dan Detik menyebutkan pertemuan ini sebagai bagian dari Science for Development Summit 2026, sementara kumparan dan Liputan6 menekankan permintaan Megawati agar AI dapat melampaui kemampuan otak manusia. JawaPos tidak menghubungkan peristwa ini dengan Megawati, melainkan fokus pada peringatan Niel Nielson terkait dampak AI pada mahasiswa.

Menurut tiap media