Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Muktamar NU ke-35: Gus Kikin Terpilih, Lukman Edy Sosok Kunci, Gus Ipul Bantah Keterkaitan PMII-HMI

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, berhasil menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PBNU untuk masa khidmah 2026-2031. Gus Kikin, pengasuh Pesantren Tebuireng yang ditunjuk melanjutkan perjuangan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), terpilih melalui proses demokratis diikuti 472 wilayah dan cabang NU di seluruh Indonesia. K.H. Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam PBNU. Menurut CNN Indonesia, Gus Kikin mendapatkan 472 suara dalam pemilihan melalui AHWA, mengalahkan empat kandidat lainnya. Pemilihan ini diumumkan oleh KH Anwar Iskandar dan para kiai sepuh majelis.

Di balik keberhasilan ini, Muhammad Lukman Edy (dikenal sebagai Abi Rekso) berperan sebagai sosok penting dalam tim pemenangan Gus Kikin. Dengan latar belakang sebagai mantan Ketua PKB Riau, Sekjen DPP PKB, dan Menteri PDT di bawah pemerintahan SBY, Lukman Edy berhasil menggalang dukungan dalam waktu singkat hanya dua minggu setelah Gus Kikin memutuskan maju. Menurut JPNN.com dan Media Indonesia, ia mengumpulkan dukungan dari 472 wilayah dan cabang NU di seluruh Indonesia melalui koordinasi yang efisien dan sinergi tim.

Sementara itu, Gus Ipul (Saifullah Yusuf) sebagai Ketua Organizing Committee menegaskan bahwa mengaitkan kondisi internal NU dengan latar belakang organisasi seperti PMII dan HMI tidak tepat. Ia menyatakan bahwa Muktamar ke-35 NU adalah urusan internal organisasi besar Islam tertinggi di Indonesia, bukan sekadar isu sentimen antar kelompok mahasiswa. Gus Ipul menekankan bahwa seluruh proses muktamar telah berjalan demokratis, transparan, dan tepat waktu, termasuk pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU tanpa ada intervensi pihak eksternal. Menuruhnya pula, NU sebagai jam'iyah besar tidak milik individu, kelompok, partai politik, atau organisasi mahasiswa tertentu. Ia meminta agar narasi pertentangan antarkelompok dihentikan agar tidak mengecilkan marwah organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Menurut kumparan, Cak Imin pernah menyatakan bahwa kepemimpinan alumni HMI berkontribusi pada keterpurukan NU, namun pernyataan ini menuju generalisasi bahwa asal-usul kaderisasi seseorang menjadi penyebab masalah organisasi. Artikel menekankan bahwa kaitan sebab-akibat tidak bisa disimpulkan hanya dari kemunculan bersamaan, sehingga kritik harus fokus pada kinerja, tata kelola, dan integritas kepemimpinan, bukan identitas organisasi.

Menurut tiap media