Jakarta · Rabu, 23 September 2026Cari
WargaKonoha

Bank Indonesia Mempertahankan Suku Bunga Acuan 5,75% untuk Stabilitas Rupiah Pasca Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah melemah 0,50 persen menjadi 17.847 per USD pada Senin (21/9/2026), terkonteks ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Houthi Yaman terhadap Arab Saudi dan fasilitas Aramco di Yanbu. Serangan ini memicu kekhawatiran dampak pada pasar energi global. Pelaku pasar menantikan keputusan Bank Indonesia dalam rapat Rabu (23/9/2026) mengenai kenaikan suku bunga acuan 25 bps sebagai respons terhadap inflasi global tinggi.

Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (22-23 September 2026). Keputusan ini ditujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, serta memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan kebijakan moneter difokuskan pada stabilitas makroekonomi dengan menekankan perlindungan rupiah dari tekanan eksternal.

Keputusan ini menjadikan penetapan suku bunga acuan tiga bulan berturut-turut sejak Juni 2026. BI juga memperkuat kebijakan insentif untuk menarik FDMI, memperluas pasar uang dan PUVA, serta mengoptimalkan intervensi valuta asing melalui NDF dan DNDF. Kebijakan makroprudensial dikongkordan dengan peningkatan kredit ke sektor riil, sementara kebijakan sistem pembayaran fokus pada digitalisasi dan infrastruktur yang andal. Kolaborasi internasional meliputi penambahan Singapura sebagai mitra LCT dan peluncuran Indonesia Travel Pack.

Menurut tiap media