Rupiah Menguat dan Meletih di Rp17.511-17.670, Ditarikhir Data Inflasi AS
Rangkuman gabungan dari 3 media · disusun dengan AI
Rupiah menguat signifikan hingga Rp17.511 per USD pada 9 September 2026, melonjak 121 poin (0,69%) dari penutupan sebelumnya Rp17.632, didorong oleh capital inflow sebesar US$90,5 juta ke pasar obligasi pemerintah. JISDOR BI mencatat level 17.552. Namun beberapa sumber memproyeksikan rupiah berpotensi melemah kembali ke kisaran Rp17.630-Rp17.670, menyusul sentimen luar negeri terkait peluncuran data inflasi AS.
Perbedaan laporan muncul terkait arah pergerakan rupiah. JawaPos memperkirakan rupiah melemah ke Rp17.630-Rp17.670, sementara Liputan6 dan JPNN melaporkan penguatan hingga Rp17.511. Semua sumber menyebutkan capital inflow sebesar US$90,5 juta sebagai faktor utama penguatan, dipengaruhi perbaikan defisit anggaran, penerimaan pajak, dan yield spread yang lebih lebar dibanding US Treasury.
Pasar menantikan rilis data inflasi AS pada 10-11 September 2026. Proyeksi inflasi AS sebesar 0,4% bulanan dan 0,2% tahunan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 60 persen. Analis menyatakan kenaikan inflasi AS yang berkelanjutan membuat obligasi pemerintah AS kurang menarik, sekaligus menunggu keputusan kebijakan moneter The Fed pekan depan.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
JawaPos
Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 17.670 per USD Hari Ini, Ini Pemicunya
9 September 2026 pukul 07.30 · Baca aslinya ↗
Liputan6.com
Rupiah Menguat ke 17.511 per Dolar AS, Tersengat Derasnya Capital Inflow
9 September 2026 pukul 17.15 · Baca aslinya ↗
JPNN.com
Rupiah Moncer 121 Poin, USD Berada di Level Rp 17.511
9 September 2026 pukul 17.30 · Baca aslinya ↗