Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

Rupiah Menguat dan Meletih di Rp17.511-17.670, Ditarikhir Data Inflasi AS

Rupiah menguat signifikan hingga Rp17.511 per USD pada 9 September 2026, melonjak 121 poin (0,69%) dari penutupan sebelumnya Rp17.632, didorong oleh capital inflow sebesar US$90,5 juta ke pasar obligasi pemerintah. JISDOR BI mencatat level 17.552. Namun beberapa sumber memproyeksikan rupiah berpotensi melemah kembali ke kisaran Rp17.630-Rp17.670, menyusul sentimen luar negeri terkait peluncuran data inflasi AS.

Perbedaan laporan muncul terkait arah pergerakan rupiah. JawaPos memperkirakan rupiah melemah ke Rp17.630-Rp17.670, sementara Liputan6 dan JPNN melaporkan penguatan hingga Rp17.511. Semua sumber menyebutkan capital inflow sebesar US$90,5 juta sebagai faktor utama penguatan, dipengaruhi perbaikan defisit anggaran, penerimaan pajak, dan yield spread yang lebih lebar dibanding US Treasury.

Pasar menantikan rilis data inflasi AS pada 10-11 September 2026. Proyeksi inflasi AS sebesar 0,4% bulanan dan 0,2% tahunan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 60 persen. Analis menyatakan kenaikan inflasi AS yang berkelanjutan membuat obligasi pemerintah AS kurang menarik, sekaligus menunggu keputusan kebijakan moneter The Fed pekan depan.

Menurut tiap media