Jakarta · Jumat, 18 September 2026Cari
WargaKonoha

Tekanan Keuangan AirAsia, Pemerintah Malaysia Pertimbangkan Pengambilalihan Rute oleh MAS dan Batik Air

Pemerintah Malaysia menyiapkan skenario antisipasi untuk mengatasi tekanan keuangan AirAsia yang ditimbulkan oleh lonjakan harga avtur sebesar 66% pada kuartal II-2026 hingga rata-rata US$ 183 per barel akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Dalam skenario ini, Malaysia Airlines (MAS) dan Batik Air diminta untuk mengambil alih sebagian rute domestik AirAsia jika diperlukan. AirAsia diketahui menguasai sekitar 40% pasar penerbangan Malaysia secara keseluruhan dan 60% untuk penerbangan domestik. Kedua maskapai menyatakan kesiapan untuk memperbesar operasi secara bertahap, termasuk mengambil alih sewa pesawat AirAsia, namun tidak mengambil alih seluruh bisnis maskapai tersebut.

AirAsia mencatatkan kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit pada kuartal II-2026, termasuk kerugian kurs sebesar 331 juta ringgit. Pada 30 Juni 2026, maskapai ini memiliki kewajiban jangka pendek sebesar 18,4 miliar ringgit (sekitar US$ 4,51 miliar) dan kas sebesar 954 juta ringgit. Untuk menghadapi situasi ini, AirAsia sedang mencari pendanaan hingga US$ 1 miliar dari pasar utang internasional ditambah fasilitas kredit domestik sebesar 700 juta ringgit untuk restrukturisasi utang.

Terdapat perbedaan klaim terkait kebutuhan modal baru AirAsia. Detik.com melaporkan bahwa dua sumber memperkirakan AirAsia membutuhkan setidaknya US$ 3 miliar modal baru, meskipun AirAsia membantah kebutuhan tersebut dan menyatakan target pendanaan yang sedang dicari sudah mencukupi. Sementara itu, kumparan menyatakan bahwa AirAsia membutuhkan modal baru sekitar USD 3 miliar untuk merestrukturisasi utang, tanpa menyebutkan respons pembantahan dari AirAsia terhadap estimasi tersebut.

Menurut tiap media