Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Tropopause, Terlihat dari Satelit
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Erupsi Anak Krakatau pada 4-5 September 2026 dipantau dari satelit dengan awan piroklastik mencapai 13-17 km, diduga menyentuh tropopause. Letusan dimulai pukul 23.00 WIB, menghasilkan awan pirocumulus bergerak ke barat menjangkau 851 km. Badan Geologi memkonfirmasi erupsi berupa lava fountain dengan aliran lava serta warna merah menyala. Ketinggian erupsi memicu perdebatan dampak iklim, namun data SO2 belum cukup untuk menilai pengaruh stratosfer. USGS menyatakan erupsi bukan pengulangan Krakatau 1883.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 5 September 2026 pukul 19.10
PVMBG Pastikan Erupsi Anak Krakatau Belum Membahayakan, Status Tetap Siaga
JPNN.com · 5 September 2026 pukul 19.00
Badan Geologi Ungkap Alasan Dentuman Anak Krakatau Bisa Terdengar hingga Bandung
Warta Ekonomi · 5 September 2026 pukul 16.16
PVMBG Duga Dentuman Misterius Berkaitan dengan Erupsi Anak Krakatau
CNBC Indonesia · 5 September 2026 pukul 15.15
Update Kondisi Kubah Lava Anak Krakatau Pascatsunami 2018-Erupsi Terus
Berita terkait
Kesaksian Warga Sedang Mancing Dekat Anak Krakatau, Dengar 3 Kali Dentuman
kumparan · 5 September 2026 pukul 14.27
Cerita Warga Melihat Detik-detik Erupsi Anak Krakatau
Liputan6.com · 5 September 2026 pukul 14.15
Dentuman Diduga dari Anak Krakatau Tak Merata, Ada Fenomena Unik
Detik.com · 5 September 2026 pukul 14.15
PVMBG Sebut Anak Krakatau Lepas Energi Bisa Merambat Ratusan Kilometer
CNN Indonesia · 5 September 2026 pukul 14.00