Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Heboh Tesla Mau Tutup di China, Elon Musk Buka Suara

Rumor beredar bahwa Tesla akan menutup atau menjual bisnisnya di China menjelang kemungkinan merger dengan SpaceX. Wall Street Journal melaporkan para penasihat Tesla membahas opsi seperti spin-off, penjualan, atau penutupan. Namun, Elon Musk langsung membantah melalui media sosial X, menyebut informasi itu "berita bohong yang konyol" dan menegaskan hal tersebut tidak pernah muncul dalam pembicaraan.

Kabar ini muncul di tengah diskusi potensi merger Tesla dan SpaceX, yang baru melakukan IPO bernilai US$75 miliar. Merger ini terhambat oleh benturan geopolitik, karena SpaceX adalah kontraktor pertahanan AS, sedangkan Tesla memiliki pabrik Gigafactory Shanghai yang 100% dimiliki tanpa mitra lokal di China. Pabrik itu sangat produktif, dengan kapasitas lebih dari 950.000 kendaraan per tahun, menyumbang lebih dari separuh total pengiriman global Tesla. China juga merupakan pasar terbesar kedua Tesla setelah AS, didukung lebih dari 400 pemasok lokal.

Musk sebelumnya tidak menutup kemungkinan merger, mengingat tumpang tindih teknologi. Gwynne Shotwell, presiden SpaceX, mengisyaratkan penggabungan bisa menyederhanakan manajemen. Namun, analisis JPMorgan menyoroti hambatan regulasi, terutama kekhawatiran keamanan nasional dari Beijing. Musk telah menginstruksikan eksekutif Tesla untuk memisahkan operasional AS dan China sebagai jaring pengaman terhadap konflik geopolitik.

Berita terkait