Heboh Tesla Mau Tutup di China, Elon Musk Buka Suara
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Rumor beredar bahwa Tesla akan menutup atau menjual bisnisnya di China menjelang kemungkinan merger dengan SpaceX. Wall Street Journal melaporkan para penasihat Tesla membahas opsi seperti spin-off, penjualan, atau penutupan. Namun, Elon Musk langsung membantah melalui media sosial X, menyebut informasi itu "berita bohong yang konyol" dan menegaskan hal tersebut tidak pernah muncul dalam pembicaraan.
Kabar ini muncul di tengah diskusi potensi merger Tesla dan SpaceX, yang baru melakukan IPO bernilai US$75 miliar. Merger ini terhambat oleh benturan geopolitik, karena SpaceX adalah kontraktor pertahanan AS, sedangkan Tesla memiliki pabrik Gigafactory Shanghai yang 100% dimiliki tanpa mitra lokal di China. Pabrik itu sangat produktif, dengan kapasitas lebih dari 950.000 kendaraan per tahun, menyumbang lebih dari separuh total pengiriman global Tesla. China juga merupakan pasar terbesar kedua Tesla setelah AS, didukung lebih dari 400 pemasok lokal.
Musk sebelumnya tidak menutup kemungkinan merger, mengingat tumpang tindih teknologi. Gwynne Shotwell, presiden SpaceX, mengisyaratkan penggabungan bisa menyederhanakan manajemen. Namun, analisis JPMorgan menyoroti hambatan regulasi, terutama kekhawatiran keamanan nasional dari Beijing. Musk telah menginstruksikan eksekutif Tesla untuk memisahkan operasional AS dan China sebagai jaring pengaman terhadap konflik geopolitik.
Bagikan
Berita terkait
Elon Musk Bangun Bisnis Baru, Rela Bakar Duit Rp 300 T
Detik.com · 10 Agustus 2026 pukul 10.45
Elon Musk Mengaku Tobat Setelah Kerajaan Bisnisnya Hancur Lebur
CNBC Indonesia · 27 Juli 2026 pukul 21.00
Lukisan Cadas Berusia 2.000 Tahun Ini Diduga Digambar Pakai Darah Manusia
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 05.45
SpaceX Pecahkan Rekor, Dua Falcon 9 Meluncur Hanya Berjarak 38,5 Menit
VOI · 17 Agustus 2026 pukul 03.05