Pakar IPB Ungkap Dampak Kelangkaan Beras 5 Kg pada Perilaku Konsumen
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Dalam beberapa hari terakhir, beras premium kemasan 5 kg dilaporkan mulai sulah ditemukan di sejumlah tempat, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Guru Besar Perilaku Konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa kelangkaan semacam ini dapat memengaruhi keputusan belanja konsumen. Ketika suatu produk mulai langka, konsumen cenderung merasa perlu segera membeli atau menyetok lebih banyak sebelum benar-benar habis.
Menurut Prof Megawati, kemasan 5 kg populer karena sesuai dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan harganya relatif terjangkau. Namun, ketika kemasan ini sulit ditemukan, konsumen tidak selalu merespons dengan panik. Sebagian dapat beralih ke ukuran lain seperti 10 kg dari merek yang sama, atau memilih alternatif lain seperti beras SPHP dari Bulog yang lebih murah.
Prof Megawati menekankan bahwa kondisi ini tidak berarti persediaan beras nasional habis atau kekurangan. Masalahnya mungkin terkait biaya produksi atau distribusi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak panik atau ikut-ikutan menimbun beras, dan hanya membeli sesuai kebutuhan. Pemerintah juga perlu menyampaikan informasi yang jelas mengenai ketersediaan dan harga beras agar konsumen tidak membuat keputusan berdasarkan rumor.
Bagikan
Berita terkait
Beras di Toko Ritel Modern Kosong, Bulog Diminta Guyur 300.000 Ton
Detik.com · 21 September 2026 pukul 16.42
Beras Premium 5 Kg Langka di Ritel, Pembelian Dibatasi
CNN Indonesia · 7 September 2026 pukul 14.47
Beras 5 Kg di Toko Ritel Langka, Mendag Minta Bulog Bantu Pasokan
Detik.com · 2 September 2026 pukul 21.18
Makin Marak, Mendag Beri Pesan Tegas ke Produsen Beras Berlabel Khusus
CNBC Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 15.55