Studi Ungkap Celah Keamanan Browser AI, Data Pengguna Bisa Dicuri
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5387858/original/054559600_1761105603-WhatsApp_Image_2025-10-22_at_10.56.41_430e72be.jpg)
Browser yang dilengkapi agen AI mulai populer karena bisa mengotomatiskan tugas seperti mencari informasi atau reservasi. Namun, studi University of Washington mengungkap celah keamanan serius pada beberapa browser tersebut. Peneliti menguji tujuh browser berbasis agen AI dan menemukan empat di antaranya memiliki celah yang memungkinkan pihak berbahaya melewati protokol 'same-origin policy'—sistem yang mencegah situs saling mengakses data. Serangan proof-of-concept berhasil dilakukan di ChatGPT Atlas, di mana sebuah situs bisa mencuri informasi dari situs lain yang terbuka di browser yang sama. Tiga browser lain yang juga rentan adalah Chrome dengan Gemini, Claude for Chrome, dan Perplexity Comet. Risiko muncul karena agen AI diberi akses luas untuk berinteraksi dengan berbagai situs atas nama pengguna. Menariknya, browser yang memberi lebih sedikit izin ke agen AI cenderung lebih aman. Temuan ini menekankan bahwa kemudahan browser AI harus diimbangi dengan keamanan yang kuat, karena celah yang ada bisa dimanfaatkan untuk mencuri data sensitif pengguna.
Bagikan
Berita terkait
AI Permudah Hacker Cari Celah Keamanan, Begini Cara Melawannya
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 12.04
Menekraf Mengeklaim Teknologi AI Dapat Tekan Angka Pengangguran
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 08.00
Samsung Kembangkan AI untuk Membaca Pola Kesehatan Tersembunyi dari Smartwatch
VOI · 17 Agustus 2026 pukul 07.30
3 Berita Artis Terheboh: Rano Bicara soal Penggunaan AI, Vino Berkorban demi Film
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 04.56