Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Teori Baru di Balik Karamnya Kapal Batavia Andalan VOC

Pada Juni 1629, kapal andalan VOC bernama Batavia karam di Kepulauan Houtman Abrolhos, Australia Barat. Kapal ini mengangkut 341 penumpang dan awak, serta kargo berupa balok batu pasir, batu bata, dan bahan bangunan untuk pembangunan kolonial di Batavia. Studi baru yang diterbitkan di Journal of Archaeological Science mengungkapkan bahwa batu pasir di kapal berasal dari setidaknya dua tambang di Jerman, yaitu di Bentheim dan Obernkirchen, yang berjarak sekitar 144 kilometer satu sama lain. Batu-batu ini kemudian dikirim ke pusat VOC di Amsterdam, disiapkan, dan dikirimkan menuju Batavia sebagai bagian dari rantai pasokan global yang canggih pada abad ke-17.

Peneliti menggunakan kristal zirkon mikroskopis yang ditemukan dalam batu untuk menelusuri asal-usulnya. Geologi batuan ini memberikan wawasan tentang kompleksitas logistik VOC dalam mengumpulkan, mengolah, dan mengangkut bahan bangunan melintasi sepertiga bumi. Studi ini juga menegaskan betapa canggihnya sistem transportasi dan koordinasi yang dikembangkan oleh VOC untuk mendukung infrastruktur kolonialnya.

Setelah karam, sebagian besar penumpang dan awak selamat mencapai pulau terdekat. Namun, komandan kapal Francisco Pelsaert dan sekelompok orang pergi untuk mencari bantuan. Akibatnya, sekelompok kecil yang tersisa dikendalikan oleh Jeronimus Cornelisz, yang telah merencanakan pemberontakan. Selama lima bulan, Cornelisz dan pengikutnya meneror para pengungsi, menyebabkan pembunuhan, pencabulan, dan penganiayaan. Pada Oktober 1629, Cornelisz dan enam pengikutnya dieksekusi, sementara para pemberontak lainnya dibawa ke Batavia untuk dihukum.

Berita terkait