Jakarta · Jumat, 21 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

50 Tahun HIPPI, Pengusaha Indonesia Diminta Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) memasuki usia ke-50 tahun dan menggunakan momentum ini untuk merefleksikan posisi pengusaha pribumi dalam struktur ekonomi nasional. Menurut Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan Azka Aufary Ramli, perjuangan pengusaha pribumi kini menghadapi tantangan berbeda dibandingkan ketika HIPPI didirikan pada 17 Agustus 1976. Pada lima dekade awal, fokus banyak pada eksistensi dan kesempatan bagi pengusaha pribumi. Namun, lima dekade berikutnya harus ditujukan pada peningkatan daya saing, penguasaan rantai nilai, regenerasi pengusaha, dan kemampuan menjadi pemain utama dalam perekonomian nasional.

Azka menekankan bahwa Indonesia memiliki basis kewirausahaan yang sangat besar, namun tantian utamanya bukan hanya menambah jumlah pengusaha, tetapi memastikan banyak usaha mikro dan kecil yang bisa naik kelas menjadi usaha menengah, berkembang menjadi industri, menciptakan merek nasional, menguasai teknologi, dan masuk ke rantai pasok perusahaan besar. Di tengah investasi yang deras, digitalisasi, dan kompetisi global, Indonesia harus tetap terbuka terhadap investasi dan kolaborasi global, namun harus memastikan investasi tersebut menciptakan efek berganda bagi pengusaha nasional.

Menurut Azka, istilah pengusaha pribumi perlu ditempatkan dalam konteks Indonesia modern yang inklusif dan progresif. Semangat ini tidak mengenai membangun sekat berdasarkan suku, ras, atau latar belakang, tetapi keberpihakan terhadap kemandirian ekonomi bangsa, penguatan pengusaha lokal, pemerataan kesempatan berusaha, dan peningkatan kepemilikan aset produktif oleh masyarakat Indonesia. Keberpihakan terhadap pengusaha nasional tidak boleh hanya pada proteksi, tetapi juga pada peningkatan profesionalisme, tata kelola, produktivitas, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia. HIPPI perlu mengambil peran lebih besar dalam menjembatani UMKM dengan perusahaan besar, pengusaha dengan pembiayaan, kampus dengan industri, pemerintah dengan dunia usaha, dan pengusaha Indonesia dengan pasar internasional.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait