Bahlil Sebut Impor Minyak Tahap Pertama dari Rusia Sudah Jalan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengkonfirmasi bahwa tahap pertama impor minyak dari Rusia telah direalisasikan oleh pemerintah Indonesia melalui mekanisme antarpemerintah (G2G). Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) ditunjuk sebagai Badan Layanan Umum (BLU) untuk mengelola impor tersebut, yang bertujuan untuk menjaga cadangan energi dalam negeri di atas standar minimum nasional dan mengantisipasi gangguan rantai pasok global. Kebijakan ini juga mencakup jaminan bahwa harga bahan bakar bersubsidi dan LPG tetap stabil tanpa kenaikan, sesuai dengan keputusan yang sudah ada.
Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 memberikan peran yang lebih besar kepada Lemigas dan badan usaha milik negara di bidang energi untuk melakukan pengadaan minyak, dengan prioritas pada pasokan domestik. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bahwa pemerintah akan mengoptimalkan BLU yang sudah ada, bukan membentuk yang baru. Pengaturan ini memungkinkan minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama dalam negeri untuk diprioritaskan memenuhi kebutuhan domestik, dengan harga sesuai ICP, bahkan jika awalnya dialokasikan untuk ekspor.
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengumumkan komitmen Rusia untuk memasok 150 juta barel minyak kepada Indonesia dengan harga khusus, setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan konflik di Timur Tengah.
Bagikan
Berita terkait
Kepala LEMIGAS Singgung Kontribusi Alumni dalam Reuni PPI di Kairo
JPNN.com · 24 September 2026 pukul 00.21
Lemigas Gandeng Badan Usaha Untuk Pengadaan 10.000 Tabung CNG
CNBC Indonesia · 2 September 2026 pukul 13.29
Tabung CNG 3 Kg Lagi Diuji Coba Lemigas, Siap-Siap Ada Kota Pecontohan
CNBC Indonesia · 2 September 2026 pukul 12.55
Bahlil Sebut BLU Batu Bara Sudah Ada, Nasib PLN EPI Jadi Tanda Tanya
Warta Ekonomi · 1 September 2026 pukul 20.00