Bajaj Jakarta yang Kian Terpinggirkan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bajaj transportasi di Jakarta mengalami penurunan signifikan dari 14.612 unit pada 1999 menjadi 6.025 unit saat ini. Sopir bajaj seperti Muslih (60 tahun) di Pasar Jembatan Lima mengaku kesulitan mendapatkan penumpang karena kompetisi ketat dari ojek online, taksi, dan mobil online. Penghasilan harian sering tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari setelah dipotong biaya sewa Rp 60.000, BBM, dan makan. Bajaj kini lebih banyak digunakan untuk mengantar barang seperti ondel-ondel, namun harus bersaing dengan layanan pengiriman aplikasi. Di 'Rumah Sakit Bajaj' di Jalan Makmur, Duri Pulo, para montir sering melakukan perbaikan berat yang biayanya mencapai Rp 1,5 juta. Meski berada di tengah padatnya kendaraan, bajaj tetap beroperasi di beberapa titik strategis seperti Asemka, Salemba, dan Tambora.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 3 Oktober 2026 pukul 10.26
Pramono Beber Kunci Jakarta Bisa Ungguli New York Atasi Kemacetan
Berita terkait
Pramono Segera Putuskan Penerapan Ganjil Genap di Jl Gajah Mada-Kota Tua
Detik.com · 4 Oktober 2026 pukul 12.20
Fitur Baru GrabCar Laku Keras, Bisa Patungan Jadi Lebih Hemat
CNBC Indonesia · 30 September 2026 pukul 18.05
Imbas Pohon Tumbang, Perjalanan KRL dari Jakarta Kota Hanya Sampai Pasar Minggu
SINDOnews · 30 September 2026 pukul 15.45
Ada Pohon Tumbang, KRL Jakarta-Bogor Terganggu
SINDOnews · 30 September 2026 pukul 15.15