Bali Hadapi Paradoks Pariwisata, Wisman Naik tapi Bisnis Hotel Tertekan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bali menghadapi paradoks pariwisata: kunjungan wisatawan meningkat tetapi bisnis akomodasi tertekan. Menurut Agus Made Yoga Iswara (Wakil Ketua IHGMA), ukuran keberhasilan harus bergeser dari volume kunjungan ke nilai ekonomi berkelanjutan. Pendekatan kuantitatif sudah tidak relevan; fokus harus pada penciptaan nilai yang lebih besar dan berkelanjutan.
Data menunjukkan akomodasi resmi naik dari 12.000 ke 17.000 unit, namun sekitar 2.000 unit masih tidak terdaftar (separuh menggunakan KBLI Real Estate tapi menjalankan penyewaan harian). Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan wisatawan tidak sebanding dengan tingkat hunian hotel, karena permintaan mengalir ke akomodasi tidak resmi. Diperlukan integrasi data pariwisata untuk melihat gambaran utuh jumlah akomodasi, pola pergerakan, dan aliran belanja wisatawan guna mengetahui nilai ekonomi yang benar-benar tinggal di Bali.
Yoga menekankan budaya sebagai modal ekonomi yang menciptakan devisa, sehingga investasi pelestarian budaya, lingkungan, dan infrastruktur adalah investasi nasional. Kawasan Canggu, Uluwatu, dan Nusa Penida mengalami overtourism karena infrastruktur tidak imbang dengan pertumbuhan. Tantangan ke depan: memastikan nilai ekonomi terserap lokal, manfaat merata, dan daya dukung lingkungan terjaga, bukan sekadar mengejar rekor kunjungan.
Bagikan
Berita terkait
Kisah Tunanetra Taklukan Batas hingga Sarjana
Liputan6.com · 14 Agustus 2026 pukul 21.36
Lima Kawasan Wisata di Bali Masuk Zona Rendah Emisi, Koster Genjot PLTS Atap
JPNN.com · 6 Agustus 2026 pukul 06.14
Bali Berguru ke Jakarta, Potensi Terbitkan Obligasi Daerah, Ini Kata Koster
JPNN.com · 5 Agustus 2026 pukul 16.01
Bali Sumbang Rp405,25 Miliar dari Pendapatan Visa, Turun Drastis, ternyata
JPNN.com · 1 Agustus 2026 pukul 16.07