Budaya Patriarki dan Relasi Kuasa Jadi Pemicu Maraknya Kekerasan di Kampus
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Budaya patriarki dan ketimpangan relasi kuasa di lingkungan perguruan tinggi masih menjadi akar utama maraknya kekerasan di kampus. Penormalan perilaku diskriminatif yang dibungkus dengan lelucon serta minimnya pemahaman batas antarindividu membuat korban ragu melaporkan kejadian. Akhir kata, kekerasan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, namun juga meliputi kekerasan psikis, ekonomi, diskriminasi, intoleransi beragama, hingga kekerasan berbasis elektronik.
Hingga 2 Juni 2026, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Kemendiktisaintek RI mencatat 787 aduan kekerasan di lingkungan kampus selama tahun 2026. Angka ini hanya mencerminkan sebagian kecil kasus yang dilaporkan, mengingga masih banyak kekerasan yang tidak tercatat.
Menurut Sri Wiyanti Eddyono, dosen Fakultas Hukum UGM, struktur hierarki akademik rentan disalahgunakan untuk melakukan kekerasan. Ia menekankan pentingnya pencegahan melalui penerapan Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024 yang memperluas cakupan bentuk kekerasan di perguruan tinggi.
Bagikan
Berita terkait
UNJ Tuan Rumah Temu Nasional Satgas PPKPT, Bahas Pencegahan Kekerasan di Kampus
SINDOnews · 9 September 2026 pukul 18.00
Temu Nasional Satgas PPKPT, Gagas Forum Komunikasi Wujudkan Kampus Bebas Kekerasan
Media Indonesia · 9 September 2026 pukul 17.51
Mahasiswa Unhas Diperlonco Senior: Dipaksa Push-up hingga Ditampar
kumparan · 7 September 2026 pukul 12.59
Mahasiswa Unhas Dipelonco Senior: Dipaksa Push-up hingga Ditampar
kumparan · 7 September 2026 pukul 12.59