Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Budaya Patriarki dan Relasi Kuasa Jadi Pemicu Maraknya Kekerasan di Kampus

Budaya patriarki dan ketimpangan relasi kuasa di lingkungan perguruan tinggi masih menjadi akar utama maraknya kekerasan di kampus. Penormalan perilaku diskriminatif yang dibungkus dengan lelucon serta minimnya pemahaman batas antarindividu membuat korban ragu melaporkan kejadian. Akhir kata, kekerasan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, namun juga meliputi kekerasan psikis, ekonomi, diskriminasi, intoleransi beragama, hingga kekerasan berbasis elektronik.

Hingga 2 Juni 2026, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Kemendiktisaintek RI mencatat 787 aduan kekerasan di lingkungan kampus selama tahun 2026. Angka ini hanya mencerminkan sebagian kecil kasus yang dilaporkan, mengingga masih banyak kekerasan yang tidak tercatat.

Menurut Sri Wiyanti Eddyono, dosen Fakultas Hukum UGM, struktur hierarki akademik rentan disalahgunakan untuk melakukan kekerasan. Ia menekankan pentingnya pencegahan melalui penerapan Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024 yang memperluas cakupan bentuk kekerasan di perguruan tinggi.

Berita terkait