Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Cerita Warga Cilandak Hadapi Kemarau: Air Sumur Berkurang hingga Berubah Warna

Musim kemarau sejak Agustus 2020 membuat warga Cilandak, khususnya di wilayah Cilandak Barat dan Pondok Labu, mengalami penurunan drastik debit air sumur. Beberapa rumah tangga seperti di Jalan Tridharma Utama V dan Jalan Wijayakusuma Raya merasakan air sumur sulit keluar, membutuhkan waktu menunggu hingga 10 menit, hingga berubah warna keruh kemerahan akibat tanah yang tersedot oleh pompa. Akibatnya, warga harus memperpanjang waktu pengisian toren hingga satu jam lebih lama, dan sebagian seperti Sutanti di Tridharma Utama Raya pun mulai membeli air isi ulang dengan biaya sekitar Rp 42.000 per minggu untuk kebutuhkan minum dan memasak.

Dewi (39) dan Nurhayati Senan (52) mengaku kondisi ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya, dengan frekuensi pengisian toren naik dari dua kali menjadi tiga kali sehari. Beberapa warga seperti Muhammad Nur (52) sudah mengantisipasi dengan menyiapkan cadangan air di bak mandi dan menurunkan jet pump jika perlu, meski hal ini membutuhkan biaya tambahan Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Sutanti dan tetangganya juga mengalami perubahan warna air sumur yang dulu jernih, sehingga tidak lagi boleh dipakai untuk minum dan memasak.

Warga meminta bantuan dari pemerintah, baik berupa air bersih maupun bantuan berupa uang agar mereka bisa membeli air sendiri. Mereka juga mengharapkan pemerintah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi sumber air di dalam permukiman, bukan hanya fokus pada jalan utama atau kawasan pembangunan. Saran dari warga termasuk menghemat penggunaan air, menyiapkan tempat penampungan cadangan, dan saling membantu antar-tetangga ketika ada yang kesulitan mendapatkan air.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait