Cuaca Buruk di Samudra Hindia, Nelayan Aceh Selatan Hilang saat Melaut
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pencarian dilakukan untuk menemukan Edi Yanto (40), nelayan tradisional dari Gampong Tanjung Harapan, Kecamatan Meukek, yang hilang di perairan Samudra Hindia sejak 16 September 2026 setelah berangkat melaut sendirian pukul 05.00 WIB menggunakan perahu kayu kecil (boat rabin). Cuaca di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat sedang buruk dengan gelombang tinggi mencapai 2-4 meter, membahayakan keselamatan pelayaran. Hingga 17 September siang, tim pencari belum menemukan jejak Edi, hanya menemukan sebuah tong fiber sejauh 3 mil dari pesisir Lhok Manggeng yang diyakini miliknya. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi hingga 4 meter di perairan Indonesia. Profesor M. Adli Abdullah dari USK mengimbau nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut saat kondisi cuaca ekstrem, mengingatkan bahwa banyak nelayan Aceh terdampar hingga ke India dan Thailand akibat terhempas badai. Insiden ini terjadi di tengah kondisi cuaca buruk yang melanda perairan Samudra Hindia dan Selat Malaka selama dua pekan terakhir, yang juga menyebabkan banjir rob di pesisir Aceh Selatan yang menggenangi 10 kecamatan.
Bagikan
Berita terkait
Jurnalis Hilang Belum Ditemukan, Operasi SAR hingga Samudra Hindia
JPNN.com · 15 September 2026 pukul 04.00
BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Samudra Hindia
Detik.com · 18 Agustus 2026 pukul 08.11
BMKG Prakirakan Awal Musim Hujan di Sumsel Mulai November 2026
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.44
Menhub Sebut Presiden Minta Investigasi soal Banyaknya Kecelakaan Kapal
kumparan · 17 September 2026 pukul 19.21