ESDM Beberkan Penyebab Sektor Tambang Terkontraksi di Kuartal II-2026
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kementerian ESDM menjelaskan sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,64% pada kuartal II 2026, terutama dipicu oleh penurunan produksi bijih logam sebesar 9,4%. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno menyampaikan penurunan ini terutama disebabkan drastisnya produksi tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) akibat insiden longsor di tambang Grasberg, Papua Tengah pada September 2025. Operasional tambang belum sepenuhnya pulih, sehingga memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor secara keseluruhan.
Meski produksi menurun, kinerja sektor pertambangan relatif terjaga karena kenaikan harga komoditas. Tri Winarno menjelaskan bahwa nilai uang sektor hampir setara dengan periode sebelumnya meski volume produksi turun, karena harga jualnya lebih tinggi. Selain tembaga, produksi batu bara dan lignit juga mengalami penurunan 1,41% seiring penataan kuota produksi dalam RKAB 2026 untuk menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga pasar internasional.
Dampak kontraksi ini terasa paling besar di wilayah Maluku-Papua, khususnya Papua Tengah. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyampaikan perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dipengaruhi oleh kinerja sektor pertambangan. Aktivitas pertambangan Freeport menyumbang 27,26% terhadap PDRB Papua Tengah, menjadikannya penopang utama perekonomian daerah.
Bagikan
Berita terkait
Freeport Bakal Mulai Produksikan Tambang Bawah Tanah Baru di 2029
CNBC Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 18.30
Smelter ke-2 Freeport di Gresik Akan Beroperasi Lagi di September 2026
CNBC Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 17.05
Bos Freeport Buka-bukaan Progres Pengembangan Tambang Bawah Tanah Baru
CNBC Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 16.20
Freeport Target Produksi Tambang Bawah Tanah 100% Pulih di Akhir 2027
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 13.00