GNB Tidak Boleh Terjebak Romantisme Masa Lalu, Wamenlu RI: Harus Menjadi Bagian Membentuk Masa Depan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Anis Matta menekankan bahwa Gerakan Non Blok (GNB) harus berfokus pada pembentukan masa depan, bukan sekadar mengagungkan masa lalu. Dalam pertemuan peringatan 65 tahun KTT pertama GNB di Beograd, Serbia, Anis menyampaikan bahwa semangat anti-penjajahan dan nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan perdamaian harus tetap jadi landasan GNB. Ia mengingat konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 sebagai sumber inspirasi terbentuknya gerakan ini.
Anis menyampaikan tiga pilar bagi peran GNB ke depan: pertama, menjaga solidaritas dan persaudaraan serta mendukung kemerdekaan, termasuk Palestina; kedua, membangun kemandirian strategis di sektor pangan, teknologi, dan energi; ketiga, berkontribusi pada masa depan yang berlandaskan keadilan dan kerja sama. Ia juga melakukan pertemuan bilateral dengan perwakilan Serbia, Arab Saudi, dan Kementerian Perdagangan Serbia untuk menjelajahi kerja sama ekonomi dan diplomasi.
KTT pertama GNB pada 1961 dihadiri oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia di bawah Presiden Sukarno. Partisipasi Indonesia kali ini mencerminkan komitmennya pada nilai-nilai Dasasila Bandung, seperti menghormati kedaulatan wilayah, prinsip non-intervensi, penyelesaian damai sengketa, dan pengakuan terhadap hukum internasional.
Bagikan
Berita terkait
Prabowo ke Rusia, Jadi Tamu Kehormatan Utama Putin di Eastern Economic Forum
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 07.38
Wamenlu Anis Matta Desak OKI Lakukan Aksi Nyata Hadapi Israel
Media Indonesia · 30 Agustus 2026 pukul 15.36
Buku ‘Kesadaran Nasional’ Diluncurkan: Rekam Perjuangan Diplomasi Ahmad Subardjo
kumparan · 29 Agustus 2026 pukul 20.54
HUT Ke-81 RI, Anis Matta Ajak Masyarakat Melihat Perjalanan Bangsa & Arah Masa Depan
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 18.35