Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Heroisme Zeni ke Bulir Padi

Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, prajurit Zeni yang lahir di Bandung pada 19 November 1970 dan lulus dari Akademi Militer pada 1993, menempuh perjalanan dari medan militer ke medan kemanusiaan. Karier awalnya dalam Korps Zeni TNI Angkatan Darat menempatkannya pada berbagai komando, termasuk Komandan Batalyon Zeni Tempur 1/Dhira Dharma pada 2010–2011. Sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 162/Wira Bhakti di Nusa Tenggara Barat, ia memimpin Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana Gempa Lombok pada Agustus 2018, kemudian menyelenggarakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascapandemi. Pendekatannya yang dekat dengan warga, didorong oleh empati dan koordinasi dengan BNPB, mendapat pengakuan dalam buku 'Mempolong Merenten' yang diluncurkan pada April 2021. Perannya menekankan bahwa pangkat tak berarti tanpa kehadiran nyata di saat krisis.

Di Lombok, Rizal memastikan distribusi bantuan makanan, air bersih, dan obat-obatan sampai ke pengungsi, sementara posko kehumatannya tetap aktif. Pengalamannya kemudian dilanjutkan ke Merauke, Papua, di mana ia belajar membaca dinamika tanah dan pengembangan program pangan. Seluruh perjalanan menegaskan filosofi hidupnya bahwa hidup bukan tentang pangkat, tetapi tentang jejak kebaikan yang ditinggakan. Buku tersebut juga menjadi dokumen penting untuk respons bencana di masa depan.

Rizal menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi, terutama dengan BNPB, dalam menangani krisis. Kehadirannya di lapangan, dari reruntuhan Lombok hingga lahan pertanian Papua, menjadi simbol transformasi Zeni dari kekuatan tempur ke pembangunan kehidupan. Pesan utamanya adalah bahwa keberanian sejati terletak pada kemampuan membuka jalan bagi kehidupan ketika semua akses terputus.

Berita terkait