Imam Al-Ghazali: Kritik kepada Penguasa Harus Bijaksana
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa kritik kepada penguasa harus disampaikan dengan bijaksana, lemah lembut, dan tidak memicu fitnah. Dalam karyanya seperti At-Tibrul Masbuk dan Ihya' Ulumid-Din, ia menjelaskan bahwa ulama dan rakyat memiliki peran penting dalam menegakkan keadilan, namun harus melalui cara yang tidak merusak. Kritik bertujuan untuk membela kaum yang terzalimi dan menegakkan kemaslahatan umum, bukan untuk menjatuhkan wibawa negara secara sembarangan.
Al-Ghazali menguraikan empat tingkatan amar makruf nahi mungkar: memberi pemahaman, memberi nasihat, memberi teguran tegas, dan tindakan paksa. Namun, terhadap penguasa, rakyat tidak diperbolehkan menggunakan kekerasan karena dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa mudarat dari tindakan kekerasan justru lebih besar daripada kemungkaran yang ingin dihapus.
Meskipun demikian, Al-Ghazali mengakui bahwa teguran keras terhadap penguasa dapat dibenarkan jika tidak menimbulkan dampak negatif yang meluas. Ia juga memuji keberanian para ulama salaf yang menyampaikan kritik terbuka demi kebenaran. Intinya, Islam tidak melarang kritik terhadap penguasa, namun cara penyampaiannya harus mempertimbangkan maslahat, kondisi, dan potensi mudarat.
Bagikan
Berita terkait
TPS Waringinkurung Terbakar Sejak Kemarin, Api Masih Mengintai
Liputan6.com · 29 Agustus 2026 pukul 14.57
Dongkrak Lapangan Kerja, Kementrans Dorong Kawasan Transmigrasi
CNBC Indonesia · 29 Agustus 2026 pukul 14.54
Belasan Anak Berambut Gimbal Ikuti Ruwatan di Dieng Culture Festival 2026
VOI · 29 Agustus 2026 pukul 14.54
Melihat Kotak Suara Ahwa Muktamar NU Dijaga Ketat di Tambakberas
CNN Indonesia · 29 Agustus 2026 pukul 14.52