IMF Sarankan RI Lepas Kecanduan "Duit Panas", Bikin Ekonomi Rentan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

IMF dalam laporan External Sector Report 2026 (7/8/2026) menilai Indonesia masih sangat bergantung pada investasi portofolio (hot money), membuat perekonomian rentan terhadap guncangan sentimen pasar dan kondisi keuangan global. Pada 2025 arus investasi portofolio berubah negatif, mencerminkan keluarnya dana neto dari ekuitas dan obligasi swasta serta penurunan kepemilikan non-residen atas SRBI. Investasi langsung asing (FDI) neto turun menjadi 1,0% PDB (2025), lebih rendah dari 1,1% (2024) dan 1,4% (2023). Kepemilikan non-residen obligasi pemerintah berdenominasi rupiah hanya 13,4% (akhir 2025), jauh di bawah 39% (2019). Awal 2026 tekanan arus keluar ekuitas meningkat di tengah tuntutan perbaikan operasional pasar dan transparansi.
IMF menyarankan pemerintah memperkuat kebijakan fiskal, mendalami pasar keuangan, dan melaksanakan reformasi struktural untuk kredibilitas dan kepastian iklim bisnis, perdagangan, serta investasi. Rekomendasi mencakup investasi infrastruktur lebih besar dan efisien, belanja sosial tepat sasaran untuk modal manusia dan jaring pengaman, pengurangan pembatasan FDI dan perdagangan (termasuk hambatan nontarif), serta peningkatan fleksibilitas pasar tenaga kerja. Langkah-langkah ini diharapkan mempertahankan keseimbangan eksternal jangka menengah di tengah ketidakpastian global berkepanjangan.
Bagikan
Berita terkait
Daftar 7 Negara di Dunia yang Bebas Tak Punya Utang
CNBC Indonesia · 20 September 2026 pukul 13.15
Bukan AS atau IMF, Ini Pemasok Utang Terbesar Indonesia
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 13.50
IMF Ramal Kemunduran Ekonomi Negara-Negara G20, RI Aman?
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 15.45
20 Negara dengan Utang Pemerintah Terbesar di Dunia Tahun 2026, Indonesia Nomor Berapa?
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 22.16